Membuat anak mau mendengarkan ucapan orang tua sering kali menjadi tantangan tersendiri.
Situasi bahkan bisa menjadi menjengkelkan ketika anak merespons dengan tangisan atau teriakan saat ditegur lantaran tidak mendengarkan.
>>> Pernyataan Jensen Huang Dongkrak Saham Teknologi Global
Kebiasaan anak mengabaikan panggilan orang tua ini membutuhkan pendekatan khusus, bukan sekadar perintah yang diulang-ulang.
Hal tersebut disampaikan oleh Doreen Miller, seorang pendidik orang tua di Institute for Parenting, Adelphi University, Garden City, New York, Amerika Serikat, dikutip dari Lifestyle.
"Di antara sekolah dan rumah, anak-anak umumnya lelah memperhatikan dan memutuskan mereka perlu mengabaikannya," ucap dia, melansir Parents, Minggu (7/6/2026).
Langkah Taktis agar Anak Mau Mendengarkan
Ada beberapa langkah taktis yang dapat diterapkan oleh ayah dan ibu saat menghadapi kondisi seperti ini.
1. Batasi Pemberian Informasi
Kapasitas otak anak dalam memproses pesan masih sangat terbatas. Pemberian rentetan perintah sekaligus berisiko membuat mereka hanya mengingat dua langkah pertama saja.
Sebaliknya, instruksi yang ambigu dan kurang jelas juga memicu anak melewatkan detail penting. Miller menyarankan orang tua untuk memecah permintaan menjadi dua bagian sederhana.
Contohnya, orang tua bisa berkata, "Saat tayangan kartun selesai, waktunya mematikan televisi dan bersiap untuk tidur."
Setelah televisi dimatikan, lanjutkan dengan kalimat, "Oke sayang, selanjutnya memakai piyama dan menyikat gigi."
2. Sampaikan Poin secara Langsung
Alasan yang bertele-tele dan terlalu panjang hanya akan membuat anak kehilangan fokus.
Misalnya, ketika menjelaskan pentingnya mengganti alas kaki demi kenyamanan berlari di taman, anak justru berpotensi mengabaikan instruksi tersebut.
Cobalah berbicara dengan lebih ringkas dan langsung pada intinya. Orang tua bisa langsung mengatakan, "Nak, pakai sepatunya sekarang, karena kita akan bermain di taman."
3. Perbaiki Pola Penyampaian
Anak-anak akan menjadi lebih tanggap jika instruksi yang diberikan diiringi dengan pendekatan visual serta taktil.
Direktur Pusat Anak dan Keluarga di Erikson Institute, Chicago, Amerika Serikat, Margret Nickels, PhD, menjelaskan bahwa orang tua perlu menjaga kontak mata langsung.
