Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok sebesar 8,69 persen ke level 5.594,765 selama periode perdagangan 2 hingga 5 Juni 2026.
Tekanan jual investor asing yang masif menjadi penyebab utama pelemahan ini.
>>> Kejagung Tetapkan Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Tersangka Korupsi
Data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa level tersebut merupakan yang terendah sejak November 2020.
Kapitalisasi pasar bursa pun ikut tergerus, turun 8,59 persen menjadi Rp9.807 triliun.
Sepanjang tahun berjalan 2026, akumulasi aksi jual bersih (net sell) investor asing telah mencapai Rp61,36 triliun di pasar saham domestik.
Angka ini menunjukkan tekanan yang terus berlanjut.
Perbankan Besar Terpukul
Koreksi dalam ini dipicu oleh rontoknya harga saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merosot 10,96 persen dalam sepekan ke Rp5.075.
Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 7,12 persen ke posisi Rp2.740 per saham.
Kedua saham ini menjadi sasaran utama aksi jual asing.
Analis KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan bahwa pelepasan saham oleh investor asing tidak disebabkan oleh memburuknya kinerja internal emiten.
Kedua bank besar tersebut tercatat masih membukukan pertumbuhan laba bersih yang solid hingga April 2026.
"BBCA dan BBRI dijual asing bukan karena fundamental memburuk.
Dua-duanya adalah saham paling likuid di IHSG sehingga jadi instrumen exit pertama kalau asing cash out dari Indonesia," kata Wafi.
>>> FIFA Izinkan Penonton Bawa Botol Air Minum ke Stadion Piala Dunia 2026
Faktor ketidakpastian ekonomi eksternal dan arus dana global dinilai menjadi pendorong utama terjadinya aksi jual paksa tersebut.
Situasi ini membuat valuasi saham perbankan Indonesia jatuh ke level yang sangat murah.
"Kondisi BBCA dan BBRI saat ini bukan value trap, tapi forced selling yang bikin diskon ekstrem pada bisnis yang fundamentalnya tidak berubah," tambahnya.
Meski indeks melemah, aktivitas perdagangan di BEI justru meningkat.
Rata-rata frekuensi transaksi harian tumbuh 14,11 persen menjadi 2,41 juta kali, dan rata-rata volume transaksi harian naik 8,66 persen menjadi 33,63 miliar saham.
Kondisi pasar modal Indonesia yang melemah 35,30 persen secara year-to-date (YTD) menempatkan IHSG di peringkat ke-35 dari 36 bursa saham dunia.
Performa ini tertinggal jauh dari bursa ASEAN lainnya seperti Thailand yang naik 25,64 persen dan Singapura yang tumbuh 8,69 persen.
Tekanan di pasar domestik juga diperparah oleh sentimen ekonomi makro.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi Mei 2026 meningkat menjadi 3,08 persen secara tahunan, sementara surplus neraca perdagangan April menyusut tajam menjadi 90 juta dolar AS.
Di luar pasar saham, upaya penguatan likuiditas tetap berjalan melalui transaksi Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
>>> IHSG Ambles 116 Poin ke Level 5.478 pada Pembukaan Perdagangan 8 Juni 2026
Nilai transaksi Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) hingga 29 Mei 2026 melonjak 114,3 persen menjadi Rp602,9 triliun.