Pasar modal Indonesia mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin.
Saham dua bank raksasa, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), ambles ke level terendah dalam lima tahun terakhir.
>>> Pemerintah Integrasikan Telur Peternak Jawa Timur ke Program Makan Bergizi Gratis
BBCA sempat terpuruk ke angka 4.870 pada pukul 09.10 WIB. Beberapa menit kemudian, giliran BBRI yang terperosok ke posisi 2.620 pada pukul 09.14 WIB.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan rekor tertinggi keduanya dalam setengah dekade.
BBCA pernah mencapai puncak di level 10.950 pada 25 September 2024, sementara BBRI sempat berada di level 6.400 pada 13 Maret 2024.
Menjelang siang, posisi saham BBCA berada di 4.990 atau terkoreksi 85 poin (1,67 persen) dari penutupan sebelumnya.
Sementara BBRI bertengger di level 2.660, turun 80 poin atau melemah 2,97 persen.
Pelemahan tidak hanya melanda dua bank besar tersebut.
Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) terpangkas 45 poin (3,95 persen) ke posisi 1.095.
Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) merosot 100 poin (3,12 persen) ke level 3.110, dan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 50 poin (1,30 persen) ke angka 3.900.
Rapor merah sektor perbankan sejalan dengan kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
>>> BPBD Gorontalo Cabut Peringatan Tsunami Usai Gempa M 7,7
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG dibuka pada level 5.486,31 dan sempat naik ke posisi tertinggi 5.490,11.
Namun, aksi jual masif memaksa indeks terjun ke level terendah 5.346,33.
Sebanyak 596 saham bergerak di zona merah, 55 saham menguat, dan 70 saham stagnan.
Volume transaksi mencapai 5,346 miliar saham dengan nilai turnover Rp 3,424 triliun dan frekuensi 343.032 kali.
Analis: Tekanan Akibat Repricing Risiko
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai tekanan di pasar keuangan mencerminkan proses penyesuaian ulang atau repricing terhadap risiko investasi Indonesia.
Investor global kini menuntut premi risiko yang jauh lebih tinggi.
Pelemahan nilai tukar rupiah, koreksi IHSG lebih dari 36 persen dari puncaknya, serta derasnya aksi jual bersih oleh investor asing memperparah situasi.
Menurut Hendra, pelaku pasar tidak hanya memperhitungkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kalkulasi risiko.
>>> Kemen Imipas Pindahkan 134 Warga Binaan Risiko Tinggi ke Nusakambangan
“Risiko yang paling menjadi perhatian saat ini bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi yang melambat, melainkan meningkatnya ketidakpastian terhadap arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar,” ujar Hendra.