⌂ Beranda News Pakar Ingatkan Orang Tua Teliti Baca Komposisi Susu Formula Anak

Pakar Ingatkan Orang Tua Teliti Baca Komposisi Susu Formula Anak

Pakar Ingatkan Orang Tua Teliti Baca Komposisi Susu Formula Anak
Orang tua membaca komposisi pada kemasan susu formula
A A Ukuran Teks16px

Para ahli mengimbau orang tua agar lebih teliti membaca daftar komposisi susu formula anak. Langkah ini penting untuk memastikan kandungan nutrisi sesuai kebutuhan anak.

Urutan penulisan bahan pada label kemasan mencerminkan volume terbesar dari komponen produk. Banyak konsumen belum memahami hal ini secara mendasar.

>>> 7 Mac yang Kompatibel dengan macOS 27 Golden Gate, Intel Ditinggalkan

"Item pertama dalam komposisi selalu yang paling banyak jumlahnya," ujar Senior Scientist FEIHE International, Yang Zhang, Ph.

D, dalam peluncuran produk susu AceKid di Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026).

Zhang menjelaskan bahwa susu bubuk skim di urutan pertama menandakan bahan utama telah melalui banyak proses pemanasan.

"Jika kata pertama yang Anda lihat adalah 'Susu Bubuk', Anda memegang produk yang bahan utamanya adalah susu bubuk rekonsitusi," paparnya.

Beberapa produsen juga menambahkan zat aditif untuk memanipulasi rasa dan memadatkan tekstur bubuk. "Kami menemukan maltodekstrin, sirup jagung, sukrosa, dan perisa sintetik.

Bahan tambahan ini sangat dibatasi atau dilarang di negara maju," terang Zhang.

Kandungan seperti pemanis buatan dan pengental juga dihindari oleh figur publik.

>>> Pemprov DKI Jakarta Tertibkan Parkir Liar di 15 Titik Lima Wilayah

"Ada beberapa hal yang saya hindari, sukrosa, gula tambahan, filler seperti maltodekstrin, dan perisa sintetik," sebut Brand Ambassador AceKid Indonesia.

Pengecekan komposisi pada kaleng produk secara serius juga diterapkan figur publik lainnya. "Saya benar-benar membalik kaleng susu, lalu membaca komposisinya dengan serius.

Komposisi yang ditulis paling pertama memiliki proporsi paling besar," tuturnya.

Dampak Gula Berlebih pada Anak

Asupan gula berlebihan pada susu formula tidak hanya merusak gigi, tetapi juga berdampak buruk pada perkembangan otak.

"Anak yang konsumsi gula berlebihan pada usia satu tahun pertama mengalami penurunan kemampuan kecerdasan pada usia tiga tahun," ujar Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia, Prof. DR.

dr. Rini Sekartini, Sp. A (K).

Konsumsi gula berlebih juga memicu obesitas yang berisiko menyebabkan gangguan pernapasan saat tidur.

>>> Harga Emas Antam di Pegadaian Turun Jadi Rp 2.843.000 per Gram pada 9 Juni 2026

"Hati-hati kalau anak gemuk dan mengorok, bisa terjadi OSAS, sehingga oksigen ke otak berkurang," ucap dr. Rini.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru