Krisis pasokan memori yang dipicu oleh tingginya permintaan untuk industri kecerdasan buatan kini mulai berdampak pada pasar kartu grafis kelas menengah.
Lonjakan harga kini tidak hanya melanda segmen kelas atas saja.
>>> Kemensos Buka 3.053 Formasi Guru Sekolah Rakyat 2026 untuk PPPK
Sebelumnya, dampak kelangkaan ini paling dirasakan oleh lini GPU kelas atas seperti Nvidia GeForce RTX 5090, RTX 5080, dan RTX 5070 Ti.
Namun, model kelas menengah kini ikut mengalami lonjakan harga jual di pasar.
Nvidia GeForce RTX 5060 Ti sekarang dipasarkan dengan harga 30 persen lebih mahal daripada harga retail resmi yang disarankan produsen.
Kenaikan signifikan juga menimpa model lain.
Harga untuk GeForce RTX 5070 dilaporkan merangkak naik sekitar 15 persen lebih tinggi dari banderol resmi. Fenomena serupa juga ditemukan pada produk kartu grafis lansiran AMD.
Produk AMD Radeon RX 9070 XT banyak dijual di kisaran 16 persen di atas harga resmi.
Sementara itu, varian Radeon RX 9070 mengalami kenaikan harga sekitar 10 persen lebih mahal.
Kenaikan harga pada lini kartu grafis kelas menengah ini dipicu oleh melambungnya harga VRAM. Komponen ini berfungsi menyimpan data grafis serta menjalankan berbagai proses visual pada perangkat PC.
Melonjaknya nilai jual VRAM dipengaruhi oleh masifnya permintaan chip memori berperforma tinggi untuk kebutuhan kecerdasan buatan. Sektor pusat data menyerap sebagian besar pasokan memori yang tersedia global.
Kondisi tersebut membuat pasokan memori untuk industri PC menjadi sangat terbatas. Akibatnya, biaya yang harus dikeluarkan produsen untuk merakit sebuah kartu grafis menjadi jauh lebih tinggi.
Laporan dari pelaku industri menyebutkan bahwa komponen memori GDDR7 kini berkontribusi hingga 80 persen dari total biaya produksi sebuah GPU.
Angka ini melonjak tajam dari kondisi normal sebelumnya.
Pada periode sebelum krisis, kontribusi komponen memori terhadap keseluruhan biaya produksi kartu grafis hanya berada di kisaran 30 persen hingga 40 persen saja.