⌂ Beranda News Chatib Basri: Pelemahan Rupiah 2026 Berbeda dengan Krisis 1998

Chatib Basri: Pelemahan Rupiah 2026 Berbeda dengan Krisis 1998

Chatib Basri: Pelemahan Rupiah 2026 Berbeda dengan Krisis 1998
Ilustrasi mata uang rupiah melemah terhadap dolar AS
A A Ukuran Teks16px

Ekonom senior Chatib Basri menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi pada tahun 2026 memiliki karakteristik yang berbeda secara fundamental dibandingkan dengan krisis moneter pada 1998.

Perbedaan utama terletak pada penerapan rezim nilai tukar yang kini jauh lebih fleksibel.

>>> Apple Intelligence Ganti Kata Sandi Otomatis untuk Keamanan Pengguna

Hal ini membuat situasi finansial saat ini tidak dapat disamakan dengan kelumpuhan ekonomi yang terjadi puluhan tahun lalu.

Chatib menjelaskan bahwa ketidaksiapan masyarakat terhadap sistem kurs mengambang pada 1998 memicu lonjakan kredit bermasalah.

Hal ini terjadi karena banyak pihak tetap meminjam dalam dolar AS meskipun pendapatan mereka dalam rupiah.

Sebaliknya, mekanisme penyesuaian saat ini dinilai sudah berjalan lebih baik, terutama pada sektor korporasi dan rumah tangga kelas menengah ke atas.

Langkah mitigasi berupa lindung nilai atau hedging telah diterapkan oleh sebagian perusahaan.

Sementara itu, sejumlah rumah tangga mengamankan dana dengan mengonversi rupiah ke dolar AS untuk kebutuhan mendesak seperti biaya pendidikan di luar negeri.

Namun, dampak negatif dari depresiasi mata uang ini diprediksi akan bergeser dan menekan kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke bawah.

Hal ini disebabkan oleh potensi kenaikan harga komoditas pangan pokok impor.

Chatib mencontohkan efek kenaikan harga tepung terigu yang dapat menaikkan harga mi instan, serta kenaikan harga kedelai yang akan berdampak pada harga tahu dan tempe.

>>> Donald Trump Pastikan Dua Pilot Helikopter Apache AS Selamat

Pemerintah disarankan untuk segera memperkuat instrumen perlindungan sosial demi memitigasi dampak dari rantai kenaikan harga barang konsumsi tersebut.

Berdasarkan kalkulasi Bank Indonesia, setiap pelemahan kurs sebesar 1 persen hanya memicu tambahan inflasi sekitar 0,13 persen.

Depresiasi rupiah saat ini yang berada di kisaran 8 persen diperkirakan menyumbang inflasi kurang dari 1 persen.

Meskipun impak makronya cenderung kecil, kenaikan harga bahan baku impor dipastikan langsung berimbas pada komoditas spesifik di pasar domestik, seperti plastik dan besi.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru