⌂ Beranda News Orang Tua Beberkan Dampak Fisik dan Psikis Kekerasan di Daycare Yogyakarta

Orang Tua Beberkan Dampak Fisik dan Psikis Kekerasan di Daycare Yogyakarta

Orang Tua Beberkan Dampak Fisik dan Psikis Kekerasan di Daycare Yogyakarta
Anak korban kekerasan di daycare mengalami trauma psikologis
A A Ukuran Teks16px

Sejumlah orang tua korban dugaan kekerasan di Daycare Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta, membeberkan dampak fisik serta psikologis yang dialami anak-anak mereka.

Hal ini disampaikan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VIII DPR RI di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, pada Selasa (9/6/2026).

>>> Bursa Kripto Central Finansial X Luncurkan Indeks Aset Kripto CFX10

Aduan tersebut disampaikan langsung oleh para orang tua, baik secara daring maupun luring. Mereka mengungkapkan perubahan perilaku drastis anak-anak setelah dititipkan di tempat penitipan anak tersebut.

Dampak Fisik dan Psikologis yang Dialami Anak

Salah satu orang tua korban, Ismanto, menjelaskan secara mendetail perubahan kondisi fisik dan psikis anaknya setelah dititipkan selama lebih dari tiga tahun.

"Jadi kondisi anak kami secara fisik maupun secara psikis, tentunya ada perubahan-perubahan psikologis selama anak kami dititipkan kurang lebih 3 tahun 1 bulan untuk anak kami," kata Ismanto.

Ismanto memaparkan bahwa anaknya kini menjadi temperamental, takut terhadap orang baru, sulit makan, hingga mengalami gangguan tidur parah di malam hari.

"Anak kami mudah marah atau temperamen, takut dengan orang baru, sulit makan, berteriak nangis histeris saat tidur malam hari, kemudian terbangun dan berpindah tidur ke lantai," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi psikologis anak yang gemar tidur di lantai diduga kuat berkaitan dengan pola pengasuhan buruk dari pihak daycare.

"Informasi yang kami terima anak-anak kami selama di daycare tidak ditempatkan di kasur tapi tidurnya di atas keramik," sambungnya.

Selain masalah psikologis, Ismanto juga membeberkan kondisi fisik anaknya yang mengalami gangguan pertumbuhan atau stunting parah. Berat badan anak jauh di bawah normal untuk seusianya.

"Dalam artian gizi buruk atau stunting ya. Jadi anak kami mengalami stunting yang cukup parah karena di bawah garis merah," ungkap Ismanto.

Ismanto menambahkan bahwa anaknya sering pulang dalam kondisi luka fisik, seperti tangan melepuh hingga mengalami pendarahan dari hidung.

Ia juga mengungkapkan riwayat kesehatan anaknya yang sempat menderita pneumonia saat baru beberapa bulan dititipkan, akibat pola perawatan yang dinilai tidak layak.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru