Bukan hanya dua tim teratas dari masing-masing 12 grup penyisihan yang akan lolos, tetapi juga delapan tim peringkat ketiga terbaik.
Karena jumlah tim bertambah, babak 32 besar pun ditambahkan.
Sebagian pengamat melihat reformasi ini sebagai keputusan yang bermotif politik.
Federasi sepak bola yang lebih kecil, yang suaranya punya bobot besar di tubuh FIFA, menjadi pihak yang paling diuntungkan dari tambahan jatah peserta.
Ini memunculkan pertanyaan tentang motif Infantino dalam mendorong perluasan tersebut.
Meski FIFA secara terbuka mengusung isu keberlanjutan dan perlindungan iklim, Piala Dunia 2026 menghadapi kritik keras karena dampaknya terhadap lingkungan.
Sejumlah studi memperkirakan turnamen ini akan menghasilkan lebih dari sembilan juta ton karbon dioksida, terutama karena jarak antar kota tuan rumah dan tingginya kebutuhan perjalanan udara.
Organisasi lingkungan menyebut ajang ini berpotensi menjadi "Piala Dunia paling merusak iklim" dalam sejarah. Masalahnya juga terasa di tingkat lokal.
Banyak stadion berada di pinggiran kota, dan dalam beberapa kasus hanya tersedia sedikit, atau bahkan tidak ada, transportasi umum.
Di tempat yang memiliki transportasi umum, sebagian tarif naik tajam.
Perjalanan singkat dengan kereta dari New York ke Stadion MetLife semula dipatok hingga $150 atau sekitar Rp2,7 juta, dibandingkan tarif normal sekitar $13 atau sekitar Rp234 ribu.
Setelah diprotes para penggemar, penyelenggara akhirnya menurunkan harga menjadi $98 atau sekitar Rp1,76 juta.
Layanan bus antar-jemput kini dijadwalkan bertarif $20 atau sekitar Rp360 ribu, turun dari usulan sebelumnya sebesar $80 atau sekitar Rp1,4 juta.
Mereka yang datang dengan mobil juga menghadapi biaya parkir tinggi di banyak lokasi, berkisar antara $75 hingga $300 atau sekitar Rp1,3 juta hingga Rp5,4 juta, tergantung pertandingan.
Setidaknya di stadion-stadion dengan biaya parkir mahal, biasanya ada alternatif transportasi umum yang lebih terjangkau.
>>> Puan Maharani Minta Pemerintah Jangkau Warga Terisolasi Pascagempa Sulawesi Utara
Para pengkritik mengatakan semua ini menunjukkan bahwa meski FIFA punya janji soal iklim, banyak penggemar tetap akan dipaksa melakukan perjalanan yang merusak lingkungan dan mahal.