Tantangan lain meliputi biaya hidup sehari-hari dan penyesuaian makanan. Menjadi bagian dari minoritas Muslim di Taiwan juga melatih kemandirian dan ketahanan mental.
Muchsin Maulana bersyukur dapat merasakan pengalaman belajar di lingkungan global. Sebagai penerima KIP-K, ia menilai kesempatan ini membuka jalan menuju masa depan yang sebelumnya tidak terbayangkan.
"Saya tidak pernah menyangka bisa sampai di titik ini. Kami belajar di lingkungan internasional, berinteraksi dengan berbagai budaya, sekaligus memperoleh peluang karier yang lebih luas," ujarnya.
Setelah menyelesaikan studi, ketiga lulusan ini bersiap mengambil langkah berikutnya dalam karier global. Mereka berencana menetap sementara di Taiwan untuk mendalami perkembangan teknologi.
Pihak rektorat memberikan apresiasi tinggi terhadap pencapaian internasional ini. Kinerja para mahasiswa dipandang sebagai bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk bersaing di panggung dunia.
Rektor Unusa, Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN Eng, mengatakan keberhasilan ini membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia, termasuk penerima KIP-K, mampu bersaing di tingkat internasional jika mendapat kesempatan dan dukungan yang memadai.
"Pencapaian tersebut juga menjadi wujud komitmen Unusa dalam memperluas akses pendidikan internasional bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi.
>>> Teknisi Ungkap Hambatan dan Biaya Balancing Baterai Mobil Listrik
Melalui berbagai program global yang terus dikembangkan, kampus berupaya membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik dan profesional bertaraf internasional," tutur Prof Tri Yogi.