⌂ Beranda News Rupiah Sentuh Rp 18.200 per Dolar, Ini Analisis Lengkap CORE Indonesia

Rupiah Sentuh Rp 18.200 per Dolar, Ini Analisis Lengkap CORE Indonesia

Rupiah Sentuh Rp 18.200 per Dolar, Ini Analisis Lengkap CORE Indonesia
Grafik nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah sempat menyentuh level Rp 18.200 per dolar AS pada Senin (8/6/2026).

Pada Selasa (9/6/2026), kurs rupiah menguat di level Rp 17.954 per dolar AS setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen.

>>> Pemerintah Alihkan Bansos Barang ke Tunai, Manfaatkan AI untuk Tepat Sasaran

Meski meninggalkan level Rp 18.000, posisi rupiah saat ini menjadi titik terlemah sepanjang sejarah Indonesia. Bahkan melampaui level saat krisis moneter 1998.

Faktor Global dan Domestik Picu Pelemahan

Laporan CORE Indonesia berjudul "Misi Menyelamatkan Rupiah" menyimpulkan pelemahan rupiah merupakan perpaduan faktor fundamental ekonomi, ketidakpastian kebijakan domestik, faktor musiman, dan geopolitik global.

Namun, faktor domestik dinilai lebih dominan.

Salah satu pemicu eksternal adalah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah. Sejak operasi militer AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, harga minyak dunia melonjak tajam.

Harga minyak Brent naik menjadi 91,8 dolar AS per barel pada 29 Mei 2026, meningkat sekitar 27 persen.

Bahkan sempat menyentuh 118,35 dolar AS per barel pada 31 Maret 2026, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.

Sebagai net importir minyak, kenaikan harga energi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor. Permintaan valas yang lebih besar kemudian menekan rupiah.

Lonjakan harga minyak juga memicu kekhawatiran inflasi di AS, mendorong ekspektasi Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Imbal hasil aset AS yang menarik menyebabkan capital flight dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

CORE mencatat tekanan serupa dialami India, Filipina, dan Thailand. Namun, rupiah mengalami depresiasi paling dalam di antara negara-negara tersebut.

Kepercayaan Investor Terganggu

Tekanan dari dalam negeri justru lebih serius. Menurut CORE, pelemahan rupiah tidak lepas dari menurunnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi dan fiskal Indonesia.

Pada Februari 2026, Moody's Ratings menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. S&P Global Ratings dan Fitch Ratings juga menyampaikan peringatan serupa.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru