⌂ Beranda News Dokter Ungkap Angin Duduk Bukan Masuk Angin Biasa, Ini Risiko Jantungnya

Dokter Ungkap Angin Duduk Bukan Masuk Angin Biasa, Ini Risiko Jantungnya

Dokter Ungkap Angin Duduk Bukan Masuk Angin Biasa, Ini Risiko Jantungnya
Ilustrasi nyeri dada akibat angin duduk
A A Ukuran Teks16px

Menurut materi edukasi yang dipaparkan dr. Febtusia, terapi angina pektoris umumnya mencakup perubahan gaya hidup, obat anti-nyeri dada, terapi lipid untuk mengendalikan kolesterol, dan prosedur medis seperti pemasangan stent atau operasi bypass bila diperlukan.

Perubahan gaya hidup meliputi berhenti merokok, menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga, dan menjaga berat badan ideal. Terapi obat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.

Salah satu aspek penting dalam penanganan angina adalah pengendalian LDL-C.

Kolesterol jahat merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penyempitan pembuluh darah koroner dan dapat dikendalikan hingga kadar di bawah 55 mg/dL.

Dalam terapi lipid, statin selama ini menjadi pengobatan lini pertama karena bekerja menghambat produksi kolesterol di hati.

Obat ini juga membantu menstabilkan plak pada pembuluh darah serta menurunkan risiko serangan jantung.

Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, menambahkan sebagian pasien belum selalu dapat mencapai target LDL-C hanya dengan terapi statin tunggal konvensional.

Sebagian lainnya juga memiliki kekhawatiran terhadap penggunaan statin dosis tinggi.

"Bagi pasien yang sulit mencapai target dengan terapi statin tunggal konvensional, atau memiliki kekhawatiran terhadap efek samping statin dosis tinggi, pendekatan jalur ganda atau dual-pathway berbasis kombinasi statin dan ezetimibe dapat menjadi pilihan yang efektif.

Pendekatan ini bekerja dengan menghambat sintesis kolesterol di hati sekaligus mengurangi penyerapan kolesterol di usus," ujar dr. Wicak.

>>> AS Serang Iran Pasca Helikopter Apache Jatuh di Selat Hormuz

Menurut dr. Wicak, kepatuhan pasien dalam menjalani terapi jangka panjang juga menjadi tantangan tersendiri.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru