⌂ Beranda News Misi Menyelamatkan Rupiah: Kredibilitas Fiskal dan Pembenahan Struktur Ekonomi

Misi Menyelamatkan Rupiah: Kredibilitas Fiskal dan Pembenahan Struktur Ekonomi

Misi Menyelamatkan Rupiah: Kredibilitas Fiskal dan Pembenahan Struktur Ekonomi
Ilustrasi uang rupiah dan dollar AS
A A Ukuran Teks16px

Pelemahan rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir menembus rekor terendah memunculkan pertanyaan besar mengenai langkah kebijakan yang diperlukan.

Di tengah tekanan global yang masih tinggi, sejumlah ekonom menilai penguatan rupiah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

>>> Pemilik Anjing Pemburu di Bogor Tersangka, Anjing Mati Kehabisan Oksigen

Perbaikan kredibilitas fiskal, tata kelola kebijakan, hingga pembenahan struktur ekonomi jangka panjang juga diperlukan.

Kajian CORE Indonesia bertajuk Misi Menyelamatkan Rupiah menyebut pelemahan rupiah dalam dua bulan terakhir dipicu kombinasi faktor fundamental ekonomi Indonesia, ketidakpastian kebijakan dalam negeri, faktor musiman, serta gejolak geopolitik global.

Faktor fundamental dan ketidakpastian kebijakan domestik dinilai memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan faktor eksternal.

Menurut CORE, nilai tukar rupiah juga diperkirakan sulit kembali ke level psikologis Rp 16.000-an apabila ketidakpastian kebijakan ekonomi yang berkembang dalam beberapa pekan terakhir belum mereda.

Kurs rupiah saat ini, yang bahkan sempat menyentuh Rp 18.200 per dollar AS, melampaui level terendah saat krisis moneter 1997/1998 yang berada di kisaran Rp 16.800 per dollar AS.

Meski demikian, CORE menilai kondisi saat ini berbeda dengan krisis 1997/1998 karena institusi makroekonomi Indonesia jauh lebih kuat dibandingkan lebih dari dua dekade lalu.

Pelemahan rupiah yang terjadi sekarang dinilai lebih berkaitan dengan komplikasi kebijakan ekonomi domestik dan tekanan global, bukan keruntuhan sistem ekonomi seperti yang terjadi pada masa krisis Asia.

BI Tidak Bisa Bekerja Sendiri

Dalam menghadapi tekanan rupiah, BI telah menempuh sejumlah langkah, mulai dari menaikkan BI Rate, meningkatkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), melakukan intervensi di pasar valas, hingga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Namun, CORE menilai beban stabilisasi rupiah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada bank sentral.

"Penanganan depresiasi rupiah tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada Bank Indonesia.

Kenaikan suku bunga acuan menjaga daya tarik imbal hasil, tetapi berbiaya tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi," tulis CORE dalam kajiannya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru