Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa pasukannya telah menyerang 21 target militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Serangan ini disebut sebagai pembalasan atas operasi udara AS di Iran selatan.
>>> Prabowo Resmikan RSUD KH Muhammad Thohir Krui di Lampung
IRGC menyasar sejumlah pangkalan udara dan pangkalan laut yang menampung tentara AS di kawasan tersebut.
Mereka juga mengancam akan melancarkan operasi balasan yang lebih besar jika AS terus melakukan tindakan militer terhadap Iran.
Target Serangan IRGC
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah Iran, IRGC merinci bahwa markas Armada Kelima AS di Bahrain menjadi sasaran serangan drone.
Sebuah drone pengintai MQ-9 Reaper milik AS dilaporkan jatuh ditembak di Provinsi Bushehr, Iran selatan.
Serangan drone juga menyasar pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait. Militer Kuwait mengonfirmasi serangan tersebut dan menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menggagalkan target udara yang dianggap bermusuhan.
IRGC melaporkan telah menembakkan rudal jarak jauh ke kompleks pangkalan Al-Azraq di Yordania.
>>> Polres Cimahi Tangkap Selebgram Bandung Edarkan Liquid Vape Ketamin
Serangan itu mengincar empat lokasi strategis, termasuk pusat komando militer dan hanggar pesawat jet tempur F-35.
Angkatan Bersenjata Yordania mengumumkan bahwa pertahanan udara mereka berhasil menjatuhkan lima rudal yang datang dari arah Iran menuju wilayah Al-Azraq.
Serpihan intersepsi jatuh di dalam area Yordania tanpa menimbulkan kerusakan atau korban.
Ketegangan ini meningkat setelah militer AS melancarkan serangan terhadap beberapa titik di Iran selatan, seperti Jask, Sirik, dan Pulau Qeshm.
AS mengklaim telah menghancurkan 20 target, termasuk menara telekomunikasi.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukannya telah menyelesaikan operasi pertahanan diri.
>>> Kenaikan Harga Pertamax: Dampak Konflik Timur Tengah dan Dilema Subsidi Energi
Jet tempur AS membidik stasiun kendali darat, situs radar, dan sistem pertahanan udara Iran di dekat Selat Hormuz sebagai balasan atas jatuhnya helikopter Apache milik AS sebelumnya.