Persaingan antara Amerika Serikat dan China kini meluas hingga ke luar angkasa, tepatnya dalam perburuan sumber air di permukaan Bulan.
Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) melalui program Artemis berencana mengirim astronaut ke kutub selatan Bulan pada 2028.
>>> Pemkot Semarang Sediakan 133 Sekolah Swasta Gratis bagi Murid Baru
Sementara itu, China menyiapkan misi Chang'e-7 yang dijadwalkan meluncur pada 2026, lebih cepat dari misi serupa NASA.
Misi Chang'e-7 akan menjadi upaya langsung pertama China untuk menemukan sumber air di permukaan satelit Bumi tersebut.
Wilayah kutub selatan Bulan menjadi incaran karena diyakini menyimpan cadangan es air dalam jumlah besar di kawah-kawah yang tidak pernah terkena sinar Matahari.
Peluncuran Chang'e-7 diperkirakan mendahului misi VIPER milik NASA yang memiliki tujuan sama, dengan target peluncuran akhir 2027.
Keberhasilan misi ini berpotensi memberikan keunggulan awal bagi China dalam menguasai sumber daya paling berharga di Bulan.
Misi Chang'e-7 merupakan langkah lanjutan setelah Chang'e-6 sukses mengambil sampel dari sisi jauh Bulan pada tahun lalu.
Para ilmuwan sudah meyakini keberadaan es air di Bulan berdasarkan pengamatan teleskop luar angkasa dan misi terdahulu.
Tantangan utama saat ini adalah menemukan lokasi cadangan es yang benar-benar bisa dimanfaatkan oleh manusia.
Cadangan air tersebut sangat menentukan keberlangsungan hidup manusia di Bulan.
Jika ditemukan dalam jumlah cukup, air dapat diolah menjadi air minum, oksigen, hingga hidrogen untuk bahan bakar roket.
Pemanfaatan sumber air lokal dinilai dapat memangkas biaya mahal untuk membawa pasokan air dari Bumi.
>>> Real Madrid Gagal Rekrut Vitinha dan Joao Neves dari PSG
Hal ini memicu banyak pihak menyebut air sebagai "emas baru" yang menentukan kemampuan manusia untuk tinggal lebih lama di Bulan.
NASA sendiri memiliki ambisi jangka panjang membangun pangkalan permanen dan mengembangkan konsep reaktor nuklir sebagai pemasok energi di Bulan.
Rencana tersebut akan lebih mudah diwujudkan jika sumber air sudah tersedia di lokasi.
Untuk menyukseskan misinya, wahana Chang'e-7 dilengkapi dengan berbagai instrumen ilmiah canggih.
Perangkat tersebut meliputi kamera pemetaan resolusi tinggi, sensor inframerah spektrum lebar, serta kamera hyperspectral untuk menganalisis material permukaan Bulan.
Selain itu, Chang'e-7 dibekali seismograf untuk mendeteksi gempa Bulan serta kamera topografi guna memetakan kondisi medan di sekitar lokasi pendaratan.
Sejumlah laporan mengindikasikan Kawah Shackleton sebagai kandidat lokasi pendaratan kuat, meski belum dikonfirmasi resmi oleh China.
Wahana bertenaga surya ini memiliki keunikan berupa kemampuan berpindah lokasi untuk mencari sinar Matahari.
Fitur ini dirancang agar sistem tetap memperoleh energi meskipun sebagian besar wilayah kutub selatan Bulan berada dalam kondisi gelap gulita.
Setelah menemukan lokasi yang tepat, Chang'e-7 akan mengebor permukaan Bulan untuk menganalisis sampel tanah.
>>> Portugal Taklukkan Nigeria 2-1 dalam Laga Uji Coba Pamungkas
Misi ini membawa tantangan teknis berat karena China menargetkan akurasi pendaratan hingga radius 100 meter di tengah medan kutub selatan yang dipenuhi kawah dan bebatuan.