⌂ Beranda News Pemprov DKI Jakarta Berencana Naikkan Tarif Transjabodetabek, Warga Protes

Pemprov DKI Jakarta Berencana Naikkan Tarif Transjabodetabek, Warga Protes

Pemprov DKI Jakarta Berencana Naikkan Tarif Transjabodetabek, Warga Protes
Bus Transjabodetabek di Jakarta
A A Ukuran Teks16px

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menyesuaikan tarif layanan angkutan Transjabodetabek yang menghubungkan ibu kota dengan wilayah penyangga.

Rencana tersebut menuai penolakan dari pengguna transportasi publik, terutama di Terminal Blok M, Jakarta Selatan.

>>> Polisi Tangkap 13 Pelaku Pengeroyokan Remaja di Cibodas Tangerang

Alasan Penyesuaian Tarif

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memberikan kepastian mengenai rencana penyesuaian tarif saat berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026).

Langkah ini diambil seiring pengoperasian rute baru seperti Blok M menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Menurut Pramono, tarif lama sebesar Rp3.500 tidak relevan lagi untuk rute tersebut.

"Enggak mungkin Blok M-Soekarno-Hatta itu Rp3.500 karena naik DAMRI, naik yang lain itu sudah rata-rata di atas Rp100 ribu," kata Pramono.

Besaran tarif baru masih dalam tahap pembahasan oleh pemerintah kota.

Pramono belum bersedia mengonfirmasi isu yang menyebutkan tarif baru akan dimulai dari angka Rp10 ribu.

"Maka, dengan demikian, akan ada penyesuaian, angkanya akan segera diputuskan dalam waktu dekat ini," lanjutnya.

Pemerintah memastikan kebijakan ini akan mempertimbangkan kemampuan bayar masyarakat serta keberlanjutan layanan.

Saat ditanya mengenai kepastian angka nominal, Pramono hanya menjawab, "Nanti saya putuskan."

Reaksi Warga

Rencana penyesuaian tarif langsung memicu respons negatif dari pengguna aktif Transjabodetabek di Terminal Blok M.

Warga mengkhawatirkan kenaikan biaya angkutan akan menambah beban pengeluaran mobilitas harian secara signifikan.

>>> Piala Dunia 2026 Dibuka di Tiga Negara dengan Jadwal Berbeda

"Kalau bisa sih enggak naik ya. Soalnya transportasi paling murah," kata Anggi, pengguna asal Bogor.

Anggi mengharapkan kolaborasi lebih intensif antara Pemprov DKI Jakarta dengan Pemprov Jawa Barat.

Menurutnya, akses transportasi publik di wilayah penyangga seperti Bogor masih sulit.

"Setuju sih ada kerja sama (Jakarta dan Jawa Barat), karena transportasi di sana (Bogor) masih agak susah," sambungnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan penumpang lain yang sering melakukan perjalanan harian lintas wilayah.

"Yang dikhawatirkan ya jadi nambah uang transportasi saja sih," ucap Anggi.

Penolakan juga disuarakan oleh pengguna lanjut usia yang sering beraktivitas menuju Bogor.

Heri Sumarsono, warga Jakarta, berharap pemerintah mempertahankan tarif tetap yang berlaku saat ini demi keadilan bagi pengguna usia produktif.

"Walaupun saya lansia, saya enggak setuju kalau tarif naik. Kasihan yang usianya di bawah 50 tahun karena mereka masih bayar biasa," ujar Heri.

Menurut Heri, tarif murah dan terjangkau sudah menjadi fungsi utama penyediaan moda transportasi massal Transjabodetabek.

Banyaknya pekerja yang mengandalkan rute ini menjadi alasan utama agar tarif tidak naik.

>>> Pramono Anung Tindak Tegas Pelaku Perundungan Bocah di Senen

"Saya harap tetap flat, kasihan yang lain," katanya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru