⌂ Beranda News Kenaikan Pertamax Rp16.250 per Liter: Tekanan Baru bagi Kelas Menengah

Kenaikan Pertamax Rp16.250 per Liter: Tekanan Baru bagi Kelas Menengah

Kenaikan Pertamax Rp16.250 per Liter: Tekanan Baru bagi Kelas Menengah
Ilustrasi kenaikan harga Pertamax dan dampaknya pada kelas menengah
A A Ukuran Teks16px

Pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada Rabu, 10 Juni 2026.

Kenaikan lebih dari 32 persen ini langsung memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap kelas menengah Indonesia.

>>> Masyarakat Desa Soligi Lestarikan Kesenian Ngibi di Pulau Obi

Kelas menengah selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Mereka bekerja, membayar pajak, dan mendorong konsumsi.

Namun, tekanan biaya hidup yang terus meningkat membuat kelompok ini semakin rentan.

Penyusutan Kelas Menengah yang Mengkhawatirkan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan signifikan jumlah kelas menengah. Pada 2019, tercatat 57,3 juta orang, namun pada 2024 turun menjadi 47,85 juta orang.

Angka tersebut kembali menurun menjadi 46,7 juta orang pada 2025.

Artinya, lebih dari 10 juta orang keluar dari kategori kelas menengah dalam enam tahun. Fenomena ini terjadi saat Indonesia berupaya keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Kenaikan Pertamax memperburuk situasi karena pengguna utamanya adalah kelas menengah perkotaan. Mereka menggunakan kendaraan untuk bekerja, mengantar anak sekolah, dan menjalankan usaha.

Jika sebelumnya pengeluaran untuk 150 liter Pertamax sekitar Rp1,845 juta per bulan, kini melonjak menjadi Rp2,437 juta.

Tambahan beban hampir Rp600.000 per bulan sangat signifikan bagi keluarga dengan cicilan rumah, biaya pendidikan, dan kebutuhan pokok.

Efek Berantai pada Konsumsi dan Ekonomi

Dampak kenaikan BBM tidak terbatas pada transportasi. Biaya distribusi barang, logistik, dan ongkos transportasi ikut naik, mendorong harga makanan, bahan bangunan, dan jasa lainnya.

Kelas menengah menghadapi tekanan ganda: biaya hidup naik sementara pendapatan tidak bertambah secepat itu. Akibatnya, mereka mengurangi makan di luar, menunda pembelian kendaraan, dan membatalkan liburan.

Konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar PDB Indonesia. Jika jutaan keluarga kelas menengah mengurangi konsumsi, pertumbuhan ekonomi nasional ikut melambat.

Banyak keluarga kelas menengah berada di ambang kerentanan.

>>> Dishub DKI Siapkan Rekayasa Lalin dan Jalur Alternatif untuk JAKIM 2026

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru