Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi seruan di media sosial yang mengajak masyarakat beralih dari Pertamax ke Pertalite.
Seruan itu muncul setelah harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter pada Kamis (11/6/2026).
>>> Thailand Pastikan Tiket Final Piala AFF U-19 2026 Usai Bantai Kamboja 4-0
Purbaya mengakui potensi perpindahan sebagian konsumen ke BBM bersubsidi sangat mungkin terjadi. Namun, ia tidak yakin seluruh pengguna Pertamax akan beralih ke Pertalite.
"Kita enggak hitung, tapi begini. Pasti ada berapa persen yang pindah," kata Purbaya, seperti dilansir dari Money.
Menurutnya, karakteristik pengguna Pertamax berbeda dengan konsumen BBM penugasan atau subsidi. Kesesuaian spesifikasi mesin kendaraan menjadi alasan utama sebagian besar konsumen tetap memilih produk nonsubsidi.
"Cuma kan harusnya enggak semuanya pindah. Kenapa?
Karena yang beli Pertamax tahu mobilnya cocok untuk Pertamax," ujar Purbaya.
>>> BI Naikkan Suku Bunga Acuan demi Stabilitas Rupiah
Belum Ada Kalkulasi Dampak
Hingga saat ini, Kementerian Keuangan belum menghitung proyeksi persentase perpindahan pengguna maupun dampak nyata terhadap beban kuota subsidi energi dalam APBN.
Urusan pola konsumsi dan pengelolaan kuota BBM bersubsidi merupakan ranah teknis lembaga lain.
"Kita belum hitung. Mungkin ditanya Pak Bahlil yang mengerti itu," kata Purbaya.
Sebagai informasi, harga Pertamax mengalami penyesuaian dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter.
>>> AFTECH Dorong Pertumbuhan Ekosistem Pinjaman Daring yang Sehat
Sementara itu, harga Biosolar tetap Rp 6.800 per liter dan Pertalite bertahan di Rp 10.000 per liter untuk menjaga daya beli masyarakat.
