Fenomena quarter-life crisis membuat banyak milenial dan Gen Z meragukan kemampuan pribadi karena menyamakan pekerjaan dengan identitas diri.
Hal ini disampaikan Psikolog Ibunda. id Danti Wulan Manunggal, Kamis (11/6/2026).
>>> Korea Selatan Tahan Imbang Ceko 0-0 di Babak Pertama Piala Dunia 2026
Kecenderungan menjadikan profesi sebagai tolok ukur harga diri memicu perasaan gagal saat karier tidak berjalan sesuai harapan.
Penilaian keliru ini kerap menimbulkan tekanan emosional berat bagi lulusan muda di tengah pasar kerja kompetitif.
Pentingnya Memisahkan Diri dari Profesi
Danti menegaskan pentingnya memisahkan esensi kepribadian dengan profesi yang ditekuni.
"Pekerjaan Anda saat ini adalah apa yang Anda lakukan untuk membayar tagihan, bukan siapa Anda yang sebenarnya," ujarnya.
Pernyataan ini didasari oleh realitas banyak lulusan baru yang terpaksa bekerja di luar bidang studi.
>>> Korea Selatan Percepat Penerapan AI Militer Senilai Rp 474 Miliar
Konflik batin muncul karena mereka membandingkan capaian karier dengan orang lain di media sosial.
Untuk menjaga kestabilan mental, lulusan muda disarankan mengaktualisasikan keahlian melalui saluran alternatif di luar kantor.
"Carilah ruang di luar pekerjaan utama, seperti proyek sampingan, komunitas, atau kursus untuk tetap mengaktualisasikan kemampuan," kata Danti.
Upaya menghadapi ketidakpastian pasar kerja sebaiknya berfokus pada aspek yang bisa dikendalikan.
Langkah konkret seperti memperbarui resume, memperluas relasi, dan melatih keterampilan baru dinilai lebih efektif daripada meratapi situasi.
>>> Manchester United Mundur dari Perburuan Elliot Anderson Akibat Harga Tinggi
Psikolog mengimbau generasi muda menjaga jarak psikologis yang sehat antara pekerjaan dan harga diri guna menghindari krisis emosional.