Sementara itu, seorang pemuda bernama Mahon sudah menyiapkan agenda nonton bareng dan berusaha mengajak teman-temannya yang bukan penggemar sepak bola untuk ikut mendukung tim nasional mereka.
"Kami sangat bersemangat. Kami mencoba mengajak teman-teman yang tidak mengikuti sepak bola untuk mendukung Tim USA," katanya.
Menurut Mahon, popularitas sepak bola di AS kini kemungkinan sudah melampaui baseball. Namun ia meyakini olahraga tersebut masih belum mampu menyaingi American football maupun basket.
"Orang-orang akan mulai tertarik," ujarnya.
Keluhan Suporter Asing dan Mahalnya Harga Tiket
Kurangnya atensi warga lokal turut dirasakan oleh suporter asing, salah satunya pendukung Skotlandia yang kembali lolos setelah absen 28 tahun.
Saat mendarat di Boston menjelang laga melawan Haiti, mereka mendapati banyak warga setempat yang tidak tahu jika Piala Dunia sedang berlangsung.
"Saya baru saja mengirim surat dan petugas bertanya mengapa saya berada di Amerika. Dia mengira saya sedang berlibur.
Padahal saya mengenakan jersey Skotlandia. Dia bahkan tidak tahu Piala Dunia sedang berlangsung," kata seorang anggota Tartan Army, kelompok suporter Skotlandia.
Faktor lain yang menjadi kendala utama bagi masyarakat domestik untuk terlibat langsung adalah tingginya harga tiket pertandingan.
Untuk laga pembuka tim nasional AS, tiket paling murah dijual seharga 1.120 dollar AS atau berkisar Rp 18 juta.
Chris, seorang warga Los Angeles yang memiliki dua anak perempuan yang aktif bermain sepak bola di klub lokal, memilih untuk mendukung dari rumah karena masalah biaya dan keterbatasan tiket.
"Harga tiket dan ketersediaannya menjadi masalah tersendiri," katanya.
Brennan, yang datang bersama keluarganya, juga mengutarakan pandangan serupa mengenai aksesibilitas tiket bagi penonton keluarga. "Kalau lebih terjangkau untuk keluarga, kami pasti akan datang langsung.
Tetapi kami tetap akan bersemangat menontonnya dari rumah," ujarnya.
Banyak pengamat menilai bahwa laju tim nasional AS di turnamen ini akan menjadi penentu utama dalam membangun gelombang dukungan publik.
Potensi peningkatan minat sebetulnya mulai terlihat ketika 30.000 orang berebut 5.000 tiket untuk menghadiri sesi latihan terbuka tim nasional yang berdurasi 30 menit.
Federasi sepak bola AS juga menerapkan strategi promosi kreatif lewat budaya populer untuk menjangkau penonton baru.
Salah satunya memajang gelandang Malik Tillman di sampul majalah mode dengan pakaian unik.
Langkah promosi ini dinilai positif oleh para pemain untuk memperluas eksposur olahraga sepak bola di kalangan masyarakat AS.
"Pada akhirnya ini soal memperluas jangkauan. Saya selalu mendukung cara-cara baru untuk mengekspresikan diri," kata bek timnas AS, Mark McKenzie.
>>> Prabowo dan Jusuf Kalla Bahas Geopolitik serta Swasembada Energi
Keberhasilan tim nasional melangkah jauh di Piala Dunia 2026 dipandang bisa menjadi titik balik krusial untuk menaikkan level popularitas sepak bola di Negeri Paman Sam.