Para peneliti di China telah berhasil mengatasi hambatan fisika fusi yang telah lama membayangi upaya menciptakan sumber energi bersih.
Reaktor fusi nuklir Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST), yang dijuluki sebagai "matahari buatan", sukses melampaui batas Greenwald.
>>> UGM Integrasikan PLTS Hybrid Agrovoltaic di Sleman untuk Smart Farming
Selama puluhan tahun, batas Greenwald menjadi tantangan krusial bagi ilmuwan fusi. Melampaui ambang batas ini secara tradisional menyebabkan plasma menjadi tidak stabil dan berpotensi merusak reaktor.
Namun, reaktor EAST kini membuktikan bahwa batasan tersebut dapat dilalui dengan aman.
Dalam upaya meniru fusi atom hidrogen yang terjadi di matahari asli pada suhu 15 juta derajat Celsius berkat gravitasi tinggi, para ilmuwan di Bumi memanaskan partikel hingga melampaui 100 juta derajat Celsius.
Gas hidrogen yang dipanaskan berubah menjadi plasma dan dikurung dalam ruang vakum menggunakan medan magnet.
Tantangan utama adalah menjaga kepadatan plasma tetap tinggi untuk menghasilkan energi fusi yang masif, karena energi fusi meningkat sebanding dengan kuadrat kepadatan plasma.
Kepadatan plasma yang tinggi seringkali memicu ketidakstabilan dan benturan dengan dinding reaktor saat mendekati batas Greenwald.
Reaktor EAST berhasil beroperasi stabil pada kepadatan 1,3 hingga 1,65 kali lebih tinggi dari batas tersebut.
Pencapaian ini diraih oleh tim Institute of Plasma Physics (ASIPP) di bawah Chinese Academy of Sciences melalui kombinasi teknik khusus.
Metode Electron Cyclotron Resonance Heating (ECRH) dan teknik pre-charged synergistic start-up diaplikasikan, bersama dengan desain dinding logam penuh untuk menekan partikel pengotor dan pelat target khusus untuk mencegah pelepasan material tungsten.
>>> Amerika Serikat Bantai Paraguay 4-1 di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Teori Baru Menuju Fusion Ignition
Eksperimen ini juga melahirkan teori baru bernama Plasma-Wall Interaction Self-Organisation (PWSO). Teori ini menjelaskan hubungan antara plasma dan dinding reaktor dalam memengaruhi batas kepadatan plasma.
Melalui PWSO, peneliti menemukan bahwa radiasi di tepi plasma berperan penting dalam memicu batas Greenwald.
Dengan kendali ini, plasma EAST diarahkan ke kondisi operasi baru yang disebut wilayah bebas kepadatan (density-free region).
Hasil riset ini membuka jalan menuju kondisi fusion ignition, di mana reaksi fusi dapat mempertahankan dirinya sendiri tanpa pasokan energi eksternal.
Operasi di atas batas Greenwald juga berpotensi memungkinkan reaktor masa depan tidak perlu berukuran super besar.
Meskipun demikian, para peneliti menekankan bahwa pembangkit listrik fusi komersial masih memerlukan waktu pengembangan lebih lanjut.
Tantangan daya tahan material dinding reaktor masih menjadi fokus utama bagi ilmuwan global.
Laporan riset kolaborasi antara lembaga fusi China dan Aix-Marseille University dari Prancis ini telah dipublikasikan dalam jurnal Science Advances.
>>> Pelemahan Rupiah: Bukan Sekadar Statistik, Ancaman Nyata Ekonomi Masyarakat
Reaktor EAST telah beroperasi sejak 2006 sebagai platform riset terbuka bagi ilmuwan dunia.