⌂ Beranda News Tribun Kosong di Piala Dunia 2026 Picu Kritik Terhadap Kebijakan Harga Tiket

Tribun Kosong di Piala Dunia 2026 Picu Kritik Terhadap Kebijakan Harga Tiket

Tribun Kosong di Piala Dunia 2026 Picu Kritik Terhadap Kebijakan Harga Tiket
Penonton membawa botol plastik ke stadion Piala Dunia 2026
A A Ukuran Teks16px

Piala Dunia 2026 menghadapi sorotan tajam setelah muncul laporan mengenai tribun yang sepi penonton di beberapa pertandingan.

Fenomena banyaknya kursi kosong ini memicu kritik terhadap kebijakan harga tiket penyelenggara.

>>> Bocah Korban Perundungan di Jakarta Pusat Alami Trauma Berat

Kondisi bangku kosong terlihat mencolok saat laga Korea Selatan melawan Republik Ceko di Stadion Akron, Meksiko, pada Jumat (12/6/2026).

Sistem penetapan harga dinamis dan izin penjualan kembali dengan harga fantastis dinilai menjadi penyebab utama sepinya penonton.

FIFA mengumumkan jumlah kehadiran resmi mencapai 44.985 jiwa dari kapasitas 45.664 kursi. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan banyak area tribun, terutama VIP, tetap kosong sepanjang pertandingan.

Klaim Optimis FIFA vs Realitas

Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya menyatakan optimisme tinggi terkait antusiasme masyarakat. Ia mengklaim telah menerima permintaan tiket yang melonjak drastis dibanding edisi sebelumnya.

“Hingga hari ini, kami telah menjual lebih dari enam juta tiket.

Permintaannya belum pernah terjadi sebelumnya, bukan hanya sedikit, tetapi 10 kali lipat atau lebih,” ujar Infantino dalam konferensi pers.

Ia menambahkan bahwa total permohonan tiket mencapai 500 juta, jauh di atas 50 juta pada dua Piala Dunia terakhir.

>>> Rachel Rose/Febi Setianingrum Gagal ke Final Australian Open 2026

Namun, sikap Infantino soal lonjakan harga tiket di pasar sekunder yang mencapai jutaan dolar memicu kontroversi.

“Jika seseorang membeli tiket untuk final seharga 2 juta dollar AS, saya pribadi akan membawakan hot dog dan Coca-Cola untuk memastikan dia mendapatkan pengalaman yang luar biasa!”

katanya.

Kekecewaan Penggemar dan Investigasi Hukum

Kondisi ini menuai kekecewaan dari kelompok penggemar internasional.

Thomas Concannon dari Asosiasi Pendukung Sepak Bola menilai FIFA gagal memanfaatkan momentum turnamen untuk menerapkan sistem harga yang lebih adil.

“Tidak mengherankan jika kita sudah melihat kursi-kursi kosong, dan tidak akan mengejutkan jika kita terus melihatnya sepanjang tahap kompetisi ini,” kata Concannon.

Ia menambahkan bahwa harga tiket selalu terlalu tinggi dan kesempatan untuk menciptakan turnamen yang luar biasa telah terbuang.

>>> Danantara Pangkas Jumlah Entitas BUMN Jadi 200 Perusahaan

Di sisi lain, otoritas hukum Amerika Serikat mulai menyelidiki dugaan manipulasi harga tiket. Setidaknya 71 dari 104 pertandingan masih berisiko mengalami tingkat kehadiran rendah.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru