American Psychological Association (APA) menyebut penolakan tidak langsung terhadap ekspektasi orang lain sebagai indikasi kuat dari gejala pasif-agresif.
5. Melontarkan Humor Sinis
Pemanfaatan humor sinis dipakai untuk menyalurkan rasa frustrasi yang terpendam. Ujaran tersebut sekilas tampak seperti lelucon biasa, padahal memuat muatan kritik tajam serta amarah yang disembunyikan.
Pakar neurosains Brit Brogaard berpendapat bahwa sarkasme bertindak sebagai media aman untuk meluapkan emosi negatif tanpa perlu mengakui kemarahan secara terbuka.
Jika kebiasaan ini diadopsi secara terus-menerus, kepercayaan dalam relasi personal maupun profesional dapat terkikis secara perlahan.
Faktor Pemicu dan Solusi Komunikasi
Kecenderungan pasif-agresif terbentuk akibat akumulasi pola asuh masa kecil, pengaruh lingkungan, hingga ketakutan mendalam terhadap konflik fisik maupun verbal.
Lingkungan masa kecil yang melarang pengekspresian amarah secara terbuka memaksa seseorang menyembunyikan emosi negatifnya hingga terbawa saat dewasa.
Menurut APA, penerapan komunikasi asertif dan terbuka menjadi solusi paling efektif untuk mengikis kecenderungan buruk ini.
>>> Bocah Korban Perundungan di Jakarta Pusat Alami Trauma Berat
Penyampaian perasaan yang jujur serta penuh rasa hormat mampu menyelesaikan konflik tanpa harus mencederai ikatan hubungan dengan sesama.