⌂ Beranda News Tekanan Ekonomi Picu Fenomena Belanja Kemewahan Kecil

Tekanan Ekonomi Picu Fenomena Belanja Kemewahan Kecil

Tekanan Ekonomi Picu Fenomena Belanja Kemewahan Kecil
Fenomena lipstick effect belanja kemewahan kecil
A A Ukuran Teks16px

Lonjakan belanja impulsif pada kosmetik mengindikasikan adanya pengurangan konsumsi di sektor lain.

“Lipstick effect ini cenderung indikator yang kurang baik sebenarnya, untuk sektor secara keseluruhan. Untuk industri kosmetik, ini peluang.

>>> Warga Tetap Berolahraga di Jalan Rasuna Said Meski CFD Ditiadakan

Tetapi bagi sektor lainnya, kalau orang membeli kosmetik secara impulsif berarti dia sedang mengurangi pembelian barang lainnya,” terang Bhima.

“Kalau dilihat secara ekonomi, ini menandakan kondisi makro mengarah ke perlambatan.”

Pergeseran konsumsi juga tampak pada sektor makanan, seperti antrean pembeli kudapan Dubai chewy cookie seharga Rp65 ribu per buah di Supermal Karawaci, Tangerang.

Karyawan retail bernama Henny Musfidah rela membeli kue viral tersebut demi memuaskan rasa penasaran.

“Ini Dubai Chewy Cookie yang pertama kali aku beli. Tapi ternyata mahal banget mana kecil lagi,” katanya sambil tertawa.

Henny lantas membuka kotaknya dan memakan kue itu dalam sekali lahap. “Ya tapi memang enak sih… kacang pistachionya juga berasa banget.”

“In this economy beli sekali aja biar nggak penasaran.

Awalnya memang pas sebelum beli tuh excited banget, tapi pas udah makan yaudah… malah agak menyesel sih,” tuturnya.

Peneliti INDEF, Tauhid Ahmad, memandang perilaku tersebut sebagai respons psikologis masyarakat untuk menutupi masalah keuangan melalui konsumsi barang terkesan mewah.

Belanja kosmetik atau makanan menjadi cara untuk tetap merasa hidup normal.

“Ketika kita menghadapi masalah keuangan, tetapi keinginan untuk belanja masih tetap ada, masyarakat tetap mengonsumsi bahkan lebih tinggi untuk barang yang sifatnya terkesan luxury (mewah) sebagai cover,” katanya.

Namun, pola konsumsi tanpa perencanaan ini berisiko menggerus tabungan masyarakat dalam jangka panjang. M.

Rizal Taufikurahman dari INDEF mengingatkan bahaya penumpukan utang jika fenomena ini tidak dikendalikan.

“Perilaku konsumtif tanpa perencanaan dapat menggerus tabungan dan memicu utang,” kata M. Rizal Taufikurahman.

“Ini bisa jadi masalah ke depan kalau tidak dikontrol.”

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sempat menyentuh angka 4,76 persen pada Februari 2026, lalu melandai ke 3,08 persen pada Mei 2026.

>>> Transmart Full Day Sale: Diskon AC Sharp 1 PK Hanya Rp 3,5 Juta

Laporan LPEM FEB UI turut mengonfirmasi tekanan konsumsi rumah tangga pada kelas menengah yang terus berlanjut sejak awal 2025.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru