Setiap empat tahun, Piala Dunia FIFA menyita perhatian global.
Edisi 2026 yang digelar di AS, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 diprediksi menjadi yang terbesar dengan 48 tim dan 104 pertandingan.
>>> Presiden Senegal Pecat Perdana Menteri Imbas Krisis Utang
Namun, di balik euforia, pertanyaan mendasar muncul: apakah menjadi tuan rumah benar-benar menguntungkan secara ekonomi?
Prediksi vs Realita
Artikel Victor Matheson (2018) dari College of the Holy Cross memberikan tinjauan komprehensif tentang ekonomi Piala Dunia.
Salah satu masalah utama adalah ketidakseimbangan antara studi dampak ekonomi sebelum dan sesudah acara.
Penyelenggara sering mengklaim angka spektakuler.
Brasil memprediksi dampak ekonomi Piala Dunia 2014 mencapai 70 miliar dolar AS, setara hampir 4 persen PDB, dengan target 600.000 wisatawan asing.
Rusia mengklaim efek berganda 26-30,8 miliar dolar AS pada 2018 dan penciptaan 220.000 lapangan kerja.
Namun, studi pasca-acara menunjukkan cerita berbeda. Piala Dunia 2006 di Jerman tidak menghasilkan peningkatan lapangan kerja signifikan.
Hanya sekitar 2.600 pekerjaan di sektor perhotelan terdeteksi, secara statistik tidak signifikan.
Edisi 1998 di Perancis tidak meninggalkan jejak pada pendapatan pariwisata nasional atau penjualan ritel.
Kajian terhadap tuan rumah antara 1970-2000 (Szymanski, 2002) menemukan pertumbuhan PDB lebih rendah sekitar 2,4 persen pada tahun penyelenggaraan.
Tiga Fenomena Kritis
Pertama, efek substitusi. Pengeluaran warga lokal untuk tiket dan restoran menggantikan belanja lain seperti bioskop atau liburan.
Uang itu tidak menciptakan nilai ekonomi baru, hanya bergeser.
Kedua, efek crowding out. Stadion penuh dan harga hotel melambung mengusir wisatawan lain.
Orlando, Florida, mencatat kinerja ekonomi terburuk di antara kota penyelenggara Piala Dunia 1994 karena wisatawan keluarga tergantikan pendukung sepak bola dengan pola belanja berbeda.
>>> Maroko Tantang Brasil di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Perancis tidak mencatat peningkatan wisatawan asing selama 1998. Wisatawan budaya menghindari kerumunan dan lonjakan harga.
Ketiga, kebocoran (leakages). Sebagian besar pendapatan dari hak siar, sponsor, dan tiket mengalir ke FIFA di Swiss.