Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren positif dalam beberapa hari terakhir.
Mata uang Garuda berhasil bangkit setelah sebelumnya sempat tertekan hingga menembus level Rp 18.000 per dollar AS.
>>> Timnas Australia Hadapi Turkiye pada Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah bertengger di posisi Rp 17.860 per dollar AS.
Angka ini menunjukkan penguatan sebesar 129 poin atau 0,71 persen dari posisi sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 17.989 per dollar AS.
Apresiasi ini juga diikuti oleh kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI).
Kurs JISDOR bergerak menguat ke area Rp 17.921 per dollar AS setelah sebelumnya berada pada level Rp 17.981 per dollar AS.
Kenaikan BI Rate Jadi Katalis Utama
Langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026 menjadi faktor utama penguatan rupiah.
Kebijakan ini dibarengi dengan kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, terutama akibat perang di Timur Tengah.
Kebijakan moneter yang lebih ketat ini dinilai memberikan dampak positif bagi pasar domestik.
Kerja sama yang solid antara bank sentral dan pemerintah terbukti mampu meredakan kecemasan pelaku pasar terhadap stabilitas fiskal nasional.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai langkah BI menaikkan suku bunga memberikan bantalan terhadap rupiah.
"Defisit APBN masih terkendali, keseimbangan primer surplus, dan pendapatan negara tumbuh cukup kuat," ujar Josua.
Arus Modal Asing Membanjiri Pasar Domestik
Kenaikan BI Rate berimplikasi langsung pada meningkatnya daya tarik aset keuangan dalam negeri.
Instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) kini menjadi incaran investor.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan aliran modal asing menunjukkan perkembangan positif setelah kenaikan suku bunga acuan.