Berdasarkan data internal bank sentral, dana investasi nonresiden yang masuk ke instrumen SRBI menyentuh Rp 15,11 triliun pada 10 Juni 2026.
Esok harinya, pasar SBN menyusul dengan mencatatkan masuknya modal asing senilai Rp 3,91 triliun. Daya tarik pasar domestik kian diperkuat oleh penerbitan perdana obligasi internasional Danantara.
Instrumen baru ini sukses menggalang dana segar dari pasar global hingga mencapai Rp 26,9 triliun.
Secara akumulatif, total aliran modal asing yang masuk melalui tiga instrumen finansial tersebut menyentuh angka Rp 45,92 triliun.
"Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," kata Destry.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan BI, termasuk kenaikan BI Rate dan peningkatan imbal hasil instrumen keuangan domestik.
Fondasi Makroekonomi Nasional Tetap Kokoh
Faktor internal lain yang ikut menopang pergerakan mata uang nasional adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi yang positif.
Kepercayaan lembaga keuangan global terhadap Indonesia turut mempertebal sentimen positif di pasar valuta asing.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan ketahanan ekonomi Indonesia tercermin dari keputusan World Bank yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,7 persen.
Laju pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun ini memang bergerak impresif dengan capaian 5,6 persen secara tahunan.
>>> UIN Malang Buka Pendaftaran Jalur Mandiri S1 2026/2027, Tiga Skema Tersedia
Angka pertumbuhan triwulanan tersebut menjadi yang tertinggi sejak kuartal II-2021.
Sektor konsumsi rumah tangga memegang peranan krusial berkat momentum bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
Faktor pendorong lainnya meliputi percepatan pencairan tunjangan hari raya (THR) bagi ASN serta dimulainya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sepanjang tahun berjalan, tingkat konsumsi masyarakat diprediksi mampu tumbuh pada kisaran 5,0 persen.
Sementara itu, belanja atau konsumsi dari sektor pemerintah diproyeksikan mengalami lonjakan hingga 8,7 persen.