Aktivitas investasi di dalam negeri juga memperlihatkan performa yang meyakinkan.
Hal ini ditunjukkan oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencatatkan pertumbuhan solid di level 6,0 persen pada kuartal I-2026.
Mengantisipasi Dampak Sentimen Global
Meskipun performa rupiah sedang berada dalam tren positif, potensi tekanan dari luar negeri tetap harus diwaspadai oleh pelaku pasar keuangan dalam jangka pendek.
Menurut Josua, penguatan rupiah masih dibatasi oleh kombinasi penguatan dollar AS, kehati-hatian pelaku pasar menjelang akhir pekan, dan tingginya ketidakpastian global.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah yang terus bergejolak membuat aset safe haven seperti dollar AS kembali diburu investor.
Spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed juga masih membayangi dinamika pasar.
Rilis data Producer Price Index (PPI) AS edisi Mei 2026 menunjukkan kenaikan yang melebihi estimasi awal pasar.
Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS berpeluang mengerek suku bunga mereka sekali lagi di penghujung tahun.
Saat ini, probabilitas bagi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada bulan Desember 2026 berada pada kisaran 60 persen.
Konflik yang melibatkan Iran di wilayah Selat Hormuz juga berisiko mengerek harga minyak dunia.
Proyeksi dan Langkah Stabilisasi ke Depan
Bank Indonesia berkomitmen penuh menjaga momentum penguatan rupiah agar bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya. Bank sentral siap memaksimalkan bauran kebijakan instrumen moneter yang ada saat ini.
Langkah intervensi akan terus dijalankan secara berkala pada pasar spot, transaksi Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar offshore melalui instrumen Non Deliverable Forward (NDF).
BI juga memperluas kerja sama Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) dengan People's Bank of China dan Hong Kong Monetary Authority.
Program Local Currency Transaction (LCT) terus diakselerasi demi memangkas ketergantungan terhadap mata uang dollar AS. Di sisi lain, optimisme senada mulai bermunculan dari para pelaku pasar modal.
Tren kembalinya dana investor global ke bursa domestik diprediksi mampu membuka ruang penguatan rupiah yang lebih lebar.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, memproyeksikan rupiah berpotensi menguat menuju level Rp 17.700 per dollar AS pada pekan depan.
Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), pemodal internasional membukukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 287 miliar di pasar saham.
Arus modal ini diproyeksikan menjadi katalis positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Azharys memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi melanjutkan penguatan dengan area support di level 5.920 dan resistance kuat di 6.200.
Kendati demikian, konsistensi pemerintah dalam menjaga disiplin anggaran pada paruh kedua tahun ini tetap menjadi fokus perhatian pasar.
>>> Koalisi Jaksa AS Selidiki OpenAI Terkait Data Pengguna dan Keamanan AI
Beban subsidi energi dan kenaikan belanja negara pada semester II menjadi faktor risiko yang harus dimitigasi dengan baik.