⌂ Beranda News Kelas Menengah Indonesia Terjepit Tiga Guncangan Ekonomi Sekaligus

Kelas Menengah Indonesia Terjepit Tiga Guncangan Ekonomi Sekaligus

Kelas Menengah Indonesia Terjepit Tiga Guncangan Ekonomi Sekaligus
Ilustrasi tekanan ekonomi pada kelas menengah Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Kondisi ekonomi Indonesia semakin menekan kelas menengah.

PT Pertamina menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, melonjak 32 persen.

>>> AC Milan Bidik Ruben Amorim sebagai Kandidat Pelatih Baru

Kenaikan ini memicu tekanan di berbagai daerah, dari Makassar hingga Surabaya. Nilai tukar rupiah juga merosot ke Rp 18.171 per dolar AS, bersamaan dengan jatuhnya IHSG.

Bank Indonesia merespons dengan menaikkan BI-Rate menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Kombinasi tiga tekanan ini paling dirasakan kelompok kelas menengah.

Populasi Kelas Menengah Terus Menyusut

Data BPS yang diolah Mandiri Institute menunjukkan penurunan jumlah kelas menengah dari 57,3 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,2 juta pada 2024, lalu 46,7 juta pada 2025.

Proporsinya merosot dari 21,5 persen menjadi 16,6 persen. Sebaliknya, kelompok menuju kelas menengah melonjak hingga 142 juta orang, yang rentan jatuh miskin saat gejolak ekonomi.

Riset Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026 menyebut kondisi ini sebagai middle class squeeze.

Tiga Guncangan Finansial Simultan

Pertama, penurunan rupiah mendongkrak harga komoditas impor.

Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar, menyatakan pengguna Pertamax adalah kelas menengah rentan tanpa akses BBM bersubsidi.

Simulasi asumsi makro APBN 2026 menunjukkan ketidakmampuan mengontrol kurs berisiko membengkakkan pengeluaran negara hingga Rp 91,5 triliun.

Kedua, lonjakan harga BBM memicu efek domino pada biaya logistik.

Dosen FEB UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, memprediksi kenaikan biaya transportasi mengerek pengeluaran rumah tangga kelas menengah 15-20 persen.

Ketiga, inflasi terselubung yang tidak tergambar dalam data resmi.

>>> Teknologi PHEV Ubah Cara Pandang Konsumen Pilih Kendaraan Efisien

BPS mencatat inflasi tahunan 3,08 persen per Mei 2026, namun inflasi riil lebih tinggi karena menyasar pendidikan, sewa, cicilan, asuransi, dan listrik.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kelas menengah 2026 dalam fase rawan karena biaya hidup naik lebih cepat dari pendapatan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru