⌂ Beranda News Warga Respons Wacana Kenaikan Tarif Bus Transjabodetabek

Warga Respons Wacana Kenaikan Tarif Bus Transjabodetabek

Warga Respons Wacana Kenaikan Tarif Bus Transjabodetabek
Ilustrasi bus Transjabodetabek yang sedang melaju di jalan raya.
A A Ukuran Teks16px

Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menaikkan tarif angkutan Transjabodetabek menuai reaksi beragam dari masyarakat pengguna jasa. Kebijakan penyesuaian ongkos perjalanan ini dikhawatirkan akan membebani pengeluaran sehari-hari warga.

Maria, seorang warga Rawa Buaya, Jakarta Barat, menilai transportasi umum seperti Transjabodetabek adalah sarana mobilitas yang murah dan mudah diakses.

>>> AC Milan Incar Ruben Amorim Gantikan Allegri Musim Depan

Bagi pekerja yang menyewa kamar kos, kenaikan biaya komuter diprediksi mengganggu stabilitas pengeluaran bulanan mereka.

"Kayaknya bakal pengaruh juga karena kadang kalau main bisa sampai ke Bogor.

Soalnya teman aku ada yang kuliah di Bogor juga, jadi aku sering nyamperin ke kosan juga, jadi kayaknya itu akan sangat pengaruh banget," kata Maria.

Perempuan yang sering bepergian menuju wilayah Blok M ini berharap agar pemerintah tidak mengubah besaran ongkos saat ini.

Dirinya mengaku sudah mengalkulasikan pengeluaran transportasi rutin untuk bekerja maupun agenda akhir pekan secara ketat.

"Kalau bisa, kalau bisa banget, jangan sampai harganya naik.

Karena Rp 3.500 itu udah aku hitung untuk sebulan aku habisnya berapa kalau pergi kerja, kalau weekend.

Terus kalau sampai naik, itu akan sangat mengganggu cost living aku sih," imbuh Maria.

>>> Pertamina Jelaskan Perbedaan Harga Pertalite Subsidi dan Pertamax

Maria menegaskan kembali dampak langsung yang akan dia rasakan jika wacana tersebut terealisasi. "Jadi kalau sampai ada kenaikan, kayaknya itu akan sangat mempengaruhi," ucapnya.

Di sisi lain, respons berbeda disampaikan oleh pengguna lainnya yang memahami situasi perekonomian saat ini.

Annisa, seorang warga Banten yang sesekali memanfaatkan layanan Transjabodetabek, dapat menerima kebijakan penyesuaian harga asalkan nominalnya tetap logis.

"Kenaikan boleh aja yang penting masih terjangkau ya. Misalnya naik dari, karena sekarang BBM juga naik, otomatis semua naik," ucap Annisa.

Menurut Annisa, batas atas tarif baru yang dianggap masih dalam kategori wajar berada di angka Rp 5.000.

Kisaran nominal tersebut dipandang tidak terlalu memberatkan bagi kelompok ibu rumah tangga.

"Ya masuk di akal juga sih kalau ada kenaikan, tapi diharapkan ibu-ibu rumah tangga itu masih terjangkau, jadi nggak usah, nggak terlalu tinggi gitu naiknya," kata Annisa.

Dia menambahkan bahwa patokan harga baru tersebut masih masuk dalam standar keterjangkauan masyarakat luas. Hal ini menjadi catatan agar pemerintah mempertimbangkan daya beli dalam merumuskan tarif.

>>> PT KAI Luncurkan KA Pandalungan 2, Jangkau Gambir-Jember

"Bolehlah ke Rp 5.000, masih standar kayak gitu," sambung Annisa.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru