Manulife Aset Manajemen Indonesia menilai daya tarik pasar saham domestik saat ini belum mampu mendorong pemodal luar negeri masuk secara masif meskipun nilai valuasinya sudah sangat murah.
Kondisi sentimen global yang penuh gejolak membuat para pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam menempatkan modal mereka di dalam negeri.
>>> Polisi Tangkap Pelaku Penembakan Mahasiswa di Samarinda
"Sehingga investor asing belum melihat alasan yang cukup kuat untuk kembali masuk agresif," kata Caroline Rusli, Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Ia menjelaskan situasi pasar domestik yang bergerak dinamis di tengah tekanan ekonomi dunia saat ini menuntut penerapan strategi penempatan dana yang lebih terukur.
"Seperti misalnya Asia Utara," imbuh Caroline Rusli.
Sektor teknologi di wilayah tersebut dianggap memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam menyerap likuiditas global karena terkait langsung dengan tren kecerdasan buatan dunia.
>>> Kemnaker Buka Pendaftaran Pemagangan Jepang dan Pelatihan Kaigo
"Ketika perusahaan-perusahaan teknologi terbesar dunia terus menaikkan belanja modal, spillover-nya akan lebih dulu terlihat di rantai pasok Asia, terutama semikonduktor, komponen elektronik, material canggih, dan infrastruktur terkait daya," terang Caroline Rusli.
Perubahan kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia dan penyesuaian suku bunga domestik turut menjadi faktor penentu berkurangnya minat investasi pada aset berisiko tinggi saat ini.
"Kombinasi pengetatan moneter, kenaikan imbal hasil obligasi, pelemahan rupiah, kekhawatiran terhadap postur fiskal, dan klasifikasi saham Indonesia oleh lembaga asing membuat selera risiko investor terus menurun," kata Caroline Rusli.
>>> FIFA Tetap Bayar Gaji Penuh Wasit Somalia Omar Artan Meski Dideportasi AS
Manulife Aset Manajemen Indonesia menilai pasar saham domestik berada dalam fase selective value sehingga investor perlu menerapkan strategi defensif.