Para ilmuwan di China berhasil membuat reaktor fusi nuklir Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) melewati batas Greenwald.
Batas ini merupakan hambatan fisika yang selama puluhan tahun dianggap hampir mustahil ditembus karena berisiko merusak reaktor.
>>> Prediksi AI Piala Dunia 2026: Spanyol Unggul, Tapi Ada Celah 82%
EAST, yang dikenal sebagai "matahari buatan", meniru cara Matahari menghasilkan energi.
Di pusat Matahari, suhu mencapai 15 juta derajat Celsius dengan tekanan sangat tinggi, menyebabkan atom hidrogen menyatu menjadi helium dan menghasilkan energi masif tanpa emisi karbon.
Untuk meniru proses itu, China menggunakan reaktor berbentuk donat raksasa yang disebut tokamak.
Gas hidrogen di dalamnya dipanaskan hingga melampaui 100 juta derajat Celsius agar partikel bergerak sangat cepat, mengompensasi minimnya gravitasi Bumi.
Suhu ekstrem mengubah gas menjadi plasma super panas. Plasma dikurung di tengah ruang vakum menggunakan medan magnet berbentuk cincin tanpa menyentuh dinding reaktor.
Tantangan utama fusi nuklir adalah membuat plasma tetap padat demi melipatgandakan energi.
Namun, saat kepadatan ditingkatkan, plasma cenderung tidak stabil dan berisiko menabrak dinding reaktor ketika mencapai titik batas Greenwald.
Reaktor EAST membuktikan bahwa batasan tersebut bisa dilalui.
Plasma di dalam reaktor berhasil beroperasi stabil pada tingkat kepadatan 1,3 hingga 1,65 kali lebih tinggi dari batas Greenwald.
Metode Khusus dan Teori Baru
Tim ilmuwan dari Institute of Plasma Physics (ASIPP) di bawah Chinese Academy of Sciences menerapkan beberapa metode khusus.
Mereka menambah pemanasan plasma menggunakan teknik Electron Cyclotron Resonance Heating (ECRH).
>>> Prancis Usung Misi Balas Dendam di Piala Dunia 2026
Pengaturan gas awal juga diperhitungkan secara cermat lewat teknik pre-charged synergistic start-up untuk menjaga stabilitas tepi plasma.
Selain itu, mereka menerapkan desain dinding logam penuh (all-metal wall) dan pelat target khusus untuk menekan pelepasan partikel pengotor dari material tungsten.
Eksperimen ini turut melahirkan teori baru bernama Plasma-Wall Interaction Self-Organisation (PWSO). Teori tersebut mengungkap bahwa radiasi di tepi plasma memegang peran kunci dalam memicu batas kepadatan.