Jutaan masyarakat Indonesia yang berhasil keluar dari kemiskinan dinilai masih berada dalam kondisi rentan. Fenomena mobilitas sosial ini menjadi perhatian serius karena tidak dibarengi rasa aman yang memadai.
Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dr. Indera Ratna Irawati Pattinasarany, MA saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Stratifikasi Sosial di FISIP Universitas Indonesia pada Rabu (10/6/2026).
>>> Jordan Henderson Waspadai Ancaman Luka Modric di Laga Inggris vs Kroasia
Ia menyebut kondisi ini memicu fenomena insecure mobility, yaitu perpindahan strata sosial tanpa diikuti rasa aman yang setara.
Banyak warga kelompok calon kelas menengah menghadapi ketidakpastian pekerjaan dan lonjakan biaya hidup.
Mobilitas Tanpa Rasa Aman
"Keberhasilan pembangunan harus dilihat bukan hanya dari seberapa jauh masyarakat mampu bergerak naik, tetapi juga dari apakah mereka dapat mempertahankan posisi dan hasil mobilitas tersebut dengan aman dan dalam jangka panjang," ungkap Prof. Ira dalam pidato pengukuhannya.
Data BPS bersama kajian LPEM FEB UI menunjukkan penurunan jumlah kelas menengah dari 57 juta jiwa (21,4 persen) pada 2019 menjadi 48 juta jiwa (17,1 persen) pada 2024.
Sebaliknya, jumlah kelompok calon kelas menengah justru meningkat.
Situasi ini mengonfirmasi bahwa pergerakan strata sosial di Indonesia masih rapuh terhadap guncangan ekonomi.
>>> Wonderlab Hadirkan Wahana Imersif untuk Stimulasi Tumbuh Kembang Anak
Prof. Ira juga menyoroti tingginya angka precariat atau precarious employment rate (PER) yang mencapai 43,6 persen pada 2025.
Precarious employment merujuk pada jenis pekerjaan tidak stabil serta minim perlindungan hukum. Kelompok sosial baru ini tumbuh subur dalam fleksibilitas pasar kerja modern.
Ciri utama kelas sosial baru ini adalah ketidakpastian pendapatan harian, minimnya akses terhadap jaminan sosial, serta kerentanan tinggi terhadap pemutusan hubungan kerja.
Tingginya PER memperlihatkan kelompok calon kelas menengah masih dibayangi ketidakamanan kerja.
"Mobilitas sosial tetap menjadi aspirasi penting masyarakat Indonesia.
Namun, keberhasilan bergerak secara ekonomi dan sosial harus dikonversi menjadi rasa aman yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
>>> Menteri ESDM Usulkan Rp 815 Miliar untuk Program Kompor Listrik RAPBN 2027
Tanpa itu, mobilitas hanya akan melahirkan kecemasan baru," pungkas Ketua Departemen Sosiologi FISIP UI itu.