Bank Dunia telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Myanmar menjadi 2 persen untuk tahun fiskal 2026/2027.
Penurunan ini disebabkan oleh lonjakan harga energi global yang memperparah tekanan ekonomi di negara tersebut.
>>> Kimia Farma Bidik Pasar Lansia Rp 700 Triliun Menuju Indonesia Emas 2045
Proyeksi produk domestik bruto (PDB) riil Myanmar ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 3 persen.
Koreksi tersebut dipicu oleh gejolak pasar energi global pasca-konflik di Iran sebelum tahun fiskal yang dimulai April 2026.
Lembaga keuangan global ini juga memperkirakan perekonomian Myanmar akan mengalami penyusutan sebesar 2 persen pada tahun fiskal 2025/2026.
Direktur Bank Dunia untuk Thailand dan Myanmar, Melinda Good, menyatakan bahwa meskipun indikator stabilisasi mulai terlihat, pemulihan ekonomi masih terhambat oleh berbagai guncangan.
Kenaikan harga bahan bakar telah memicu peningkatan biaya transportasi, logistik, manufaktur, dan rantai distribusi barang di Myanmar.
Kondisi ekonomi yang rapuh juga meningkatkan kebutuhan devisa untuk memenuhi impor bahan bakar minyak.
>>> Portugal vs RD Kongo: Duel Perdana di Grup K Piala Dunia 2026
Berbagai indikator bisnis seperti volume produksi, penjualan, dan profitabilitas perusahaan masih berada di bawah level sebelum kudeta militer pada Februari 2021.
Dampak gempa bumi besar pada Maret 2025 juga sempat mengganggu aktivitas ekonomi di beberapa wilayah.
Perbaikan ekonomi yang sempat terjadi secara moderat pada awal 2026 kembali tertekan oleh lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.
Prospek ekonomi Myanmar ke depan masih dibayangi risiko besar, termasuk perang saudara yang berkepanjangan dan gangguan jalur perdagangan.
Tekanan eksternal seperti penurunan pendapatan ekspor dan volatilitas harga energi global turut memperparah ketidakpastian.
>>> VCGamers Luncurkan Fitur Cuan untuk Tambahan Penghasilan Pengguna
Bank Dunia menilai pemulihan ekonomi Myanmar akan tetap berjalan lambat selama stabilitas politik dan kondisi keamanan belum membaik.