⌂ Beranda News Bahaya Terlalu Sering Curhat ke Chatbot AI, Kata Peneliti Harvard

Bahaya Terlalu Sering Curhat ke Chatbot AI, Kata Peneliti Harvard

Bahaya Terlalu Sering Curhat ke Chatbot AI, Kata Peneliti Harvard
Ilustrasi seseorang berbicara dengan chatbot AI di layar ponsel
A A Ukuran Teks16px

Banyak orang kini beralih mencurahkan isi hati kepada chatbot AI seperti ChatGPT atau Claude.

Fenomena ini muncul karena respons AI yang cepat, ramah, dan terasa "mengerti" membuat pengguna merasa nyaman.

>>> Felicia Angelica Lolos Top 7 Final The Icon Indonesia SCTV

Namun, para peneliti dan ahli etika dari Harvard University memberikan peringatan mengenai potensi bahaya dari kebiasaan ini.

Simulasi Empati Chatbot

Associate Professor of Philosophy dari University of Oxford, Carissa Véliz, menjelaskan bahwa chatbot dirancang untuk membuat pengguna merasa nyaman agar terus menggunakan layanan mereka.

AI cenderung memberikan respons yang ingin didengar manusia, bukan selalu berdasarkan kebenaran atau kepentingan terbaik pengguna.

"Tidak ada siapa pun di balik layar yang benar-benar peduli pada Anda," ujar Véliz.

Ia menilai istilah "empati AI" kurang tepat karena chatbot hanya meniru pola bahasa manusia tanpa benar-benar memahami emosi.

Véliz juga mengingatkan bahwa validasi terus-menerus dari chatbot dapat menyulitkan seseorang menerima kritik atau perbedaan pendapat dari manusia lain.

Padahal, ketidaksetujuan dalam percakapan nyata penting untuk perkembangan diri.

Gangguan Kemampuan Sosial

Para panelis menyoroti risiko menjadikan chatbot sebagai tempat utama mencari dukungan emosional, terutama bagi anak-anak dan remaja.

>>> Harga Minyak Dunia Anjlok Setelah AS-Iran Capai Kesepakatan Damai

Chatbot yang selalu sabar dan setuju dengan pengguna dapat menciptakan ekspektasi tidak realistis terhadap hubungan sosial di dunia nyata.

Akibatnya, interaksi dengan manusia asli yang lebih kompleks bisa terasa melelahkan atau mengecewakan.

Profesor Harvard Law School, Jonathan Zittrain, khawatir manusia menjadi terlalu bergantung pada AI hingga mengurangi interaksi antarmanusia. "Itu menjadi versi murah dari hubungan manusia yang sebenarnya," ujarnya.

Selain itu, para ahli mempertanyakan tanggung jawab ketika chatbot memberikan saran yang salah, terutama dalam bidang medis atau kesehatan mental.

AI Tidak Bisa Menggantikan Dunia Nyata

Meskipun mengkritik risiko chatbot, para ahli menegaskan bahwa AI tetap memiliki banyak manfaat dan tidak perlu ditolak sepenuhnya.

Teknologi ini dapat membantu manusia dalam pekerjaan, riset, hingga akses informasi.

Namun, mereka mengingatkan agar manusia tidak melupakan pentingnya hubungan sosial dan pengalaman nyata di dunia analog.

Véliz menekankan bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan dunia analog, seberapa pun canggihnya teknologi tersebut.

>>> Pengadilan Eksekusi Pengosongan Lahan Hotel Sultan 18 Juni

Keseimbangan menjadi hal penting; AI bisa membantu kehidupan manusia, tetapi hubungan nyata, perbedaan pendapat, dan interaksi sosial tetap krusial.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru