Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman gencatan senjata secara elektronik pada Juni 2026. Kesepakatan ini mengakhiri konfrontasi militer terbuka di kawasan Timur Tengah.
Mediator kesepakatan adalah Presiden AS Donald Trump dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Perjanjian ini memicu gelombang kritik dari berbagai spektrum politik di Israel.
>>> OJK Panggil Toyota Astra Financial Services Terkait Dugaan Kekerasan Debt Collector
Kesepakatan tersebut mewajibkan utusan kedua negara melakukan negosiasi lanjutan selama 60 hari. Tujuannya adalah mencapai perjanjian permanen yang lebih komprehensif.
Perjanjian antara Washington dan Teheran juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Selain itu, aset Iran yang dibekukan akan dicairkan.
Namun, kesepakatan ini menghadapi penolakan internal dari CIA dan kabinet bentukan Trump sendiri. Hal ini menunjukkan adanya perpecahan di dalam pemerintahan AS.
Tekanan Politik terhadap Netanyahu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini menghadapi tekanan politik berat. Pemilihan umum akan digelar sebelum akhir Oktober 2026.
Oposisi menilai sudut pandang keamanan yang diusung Netanyahu gagal total. Sekutu utamanya, Amerika Serikat, bertindak sepihak tanpa melibatkan Israel dalam negosiasi.
Kondisi ini memicu kritik keras dari dalam negeri Israel. Posisi Netanyahu di hadapan sekutu terbesarnya dipertanyakan.
Pemimpin Oposisi Israel Yair Lapid menyatakan, "either a direct and destructive confrontation with our greatest ally, or a submissive surrender of Israeli interests."
Tekanan juga datang dari kelompok sayap kanan di dalam koalisi kabinet Netanyahu sendiri.
Mereka menolak tuntutan Teheran agar gencatan senjata mencakup penghentian operasi militer Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menulis, "Trump's agreement does not bind us." Ia menegaskan bahwa Israel tidak akan tunduk pada kesepakatan yang dianggap mengorbankan keamanan domestik.
Anggota Parlemen dari Partai Likud Ariel Kallner menyatakan, "Israel will continue to protect itself." Ia berharap negara-negara sekutu memahami posisi kedaruratan yang dihadapi Israel.
Kallner menambahkan, "Sometimes there are disagreements between allies, and allies should also understand their allies when they are in danger."