Dana swasta sebesar US$ 300 miliar atau setara Rp 5.310 triliun disiapkan untuk investasi di Iran.
Langkah ini merupakan bagian dari kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran guna mengakhiri konflik.
>>> Kemdiktisaintek Buka Pendaftaran Beasiswa Pra Doktoral 2026 untuk Dosen
Lebih dari separuh target dana tersebut kini telah siap dikucurkan oleh para investor. Skema ini dirancang untuk mendorong kedua negara menyelesaikan kesepakatan damai melalui prospek manfaat ekonomi.
Rencananya, penandatanganan kesepakatan resmi akan dilakukan pada Jumat mendatang.
Sebelumnya, pejabat kedua negara telah mengumumkan kesepakatan mengakhiri perang yang pecah akibat serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari.
Kesepakatan tersebut juga mengatur penghentian blokade ekonomi oleh AS. Selain itu, Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia akan dibuka kembali.
Skema Investasi Swasta
Skema investasi yang diberi nama Reconstruction and Development Fund ini murni didanai pihak swasta. Program ini bukan berupa bantuan rekonstruksi ataupun kompensasi perang dari pemerintah.
Pendanaan tersebut dipastikan tidak menggunakan uang negara ataupun dana hibah. Sumber modal berasal dari korporasi yang berbasis di AS, negara-negara Teluk Arab, Asia, Amerika Selatan, serta Afrika.
Komitmen investasi yang dijanjikan bakal mengalir ke sejumlah sektor strategis. Sektor-sektor tersebut meliputi bidang energi, logistik, manufaktur, dan transportasi.
Pihak Iran sempat menuntut kompensasi perang sebesar US$ 400 miliar dari AS. Namun, Washington menolak tuntutan pembayaran tersebut.
Penolakan itu memicu lahirnya gagasan pembentukan dana investasi bersama sebagai jalan keluar. Negara-negara di kawasan akan ikut berkontribusi lewat berbagai mekanisme keuangan.
>>> Seskab Teddy Indra Wijaya Bahas Rencana Kunjungan PM India Narendra Modi
Mekanisme yang disiapkan meliputi pemberian jaminan pinjaman dan pembukaan jalur kredit. Ada pula pendanaan langsung untuk membangun kembali fasilitas yang rusak.
Sejumlah proyek telah masuk dalam daftar rekonstruksi prioritas. Proyek tersebut di antaranya kompleks baja Mobarakeh, kilang minyak, bandara, serta infrastruktur terdampak konflik lainnya.
