Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen pada 2029 untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Namun, sektor ketenagakerjaan nasional masih terhambat masalah ketidaksesuaian keahlian atau skill mismatch.
Kondisi pekerja yang memiliki keterampilan dan tingkat pendidikan tidak selaras dengan kebutuhan industri dapat menurunkan produktivitas nasional. Dampak lanjutannya akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi.
>>> Yum Brands Jual Pizza Hut Rp 47 Triliun, Fokus ke KFC dan Taco Bell
Lonjakan bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 2030 tidak akan memberikan dampak positif apabila tidak didominasi oleh sumber daya manusia berkualitas.
Kerugian Ekonomi Akibat Skill Mismatch
Syafruddin Karimi, Ekonom dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, menjelaskan bahwa hilangnya potensi ekonomi dapat dihitung lewat pendekatan output gap tenaga kerja terdidik.
Metode hitungannya mengalikan jumlah lulusan perguruan tinggi yang menganggur atau bekerja di bawah kualifikasi dengan rata-rata produktivitas tenaga kerja terdidik, lalu dikoreksi tingkat depresiasi keterampilan serta masa tunggu kerja.
Sebagai gambaran, hilangnya serapan industri terhadap satu juta lulusan perguruan tinggi memicu lenyapnya output PDB yang mestinya tercipta dari inovasi, pajak, konsumsi, kerja, hingga multiplier effect permintaan.
"Kerugian ini harus dihitung lebih luas daripada upah yang hilang," kata Syafruddin.
Penghitungan komprehensif tersebut turut memperlihatkan hilangnya potensi Pajak Penghasilan (PPh), iuran jaminan sosial, konsumsi kelompok kelas menengah, serta akumulasi pengalaman kerja.
Syafruddin menguraikan bahwa kemampuan pekerja dapat mengalami penurunan jika tidak dimanfaatkan. Hal ini mengacu pada kajian human capital depreciation.
Penelitian Arrazola dan de Hevia menunjukkan penyusutan modal manusia berkisar 1 hingga 1,5 persen per tahun, sedangkan temuan Lentini dan Gimenez berkisar antara 1 sampai 6 persen lintas sektor.
"Jadi, semakin lama lulusan menganggur, semakin besar output yang hilang, bukan hanya karena mereka tidak bekerja, tetapi karena nilai produktivitas mereka ikut terkikis," ucap Syafruddin.
Ancaman Middle Income Trap
Dampak masif dari fenomena ketidaksesuaian keterampilan ini berisiko memperlama posisi Indonesia dalam jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.