Kondisi internal Meta tengah menghadapi tantangan berat setelah gelombang PHK dan reorganisasi besar-besaran demi fokus pada teknologi AI.
Hal ini memicu penurunan drastis semangat kerja para staf yang bertahan.
>>> Widzew Lodz Resmi Rekrut Israr Megantara ke Liga Futsal Polandia
CEO Meta Mark Zuckerberg kini berupaya keras merancang strategi untuk mengembalikan keceriaan dan motivasi di lingkungan kerja.
Gelombang efisiensi bulan lalu telah memangkas sekitar 8.000 pekerja, atau 10 persen dari total tenaga kerja Meta.
Karyawan yang lolos dari PHK dialihkan ke divisi baru yang bertugas melatih model AI, yang diistilahkan sebagai 'wajib militer'.
Melalui memo internal, Zuckerberg menjanjikan kompetisi hackathon bertema AI pada Juli mendatang.
Meta memang rutin mengadakan hackathon, namun rencana kali ini mendapat respons dingin akibat situasi psikologis staf yang negatif pasca-PHK.
>>> Dokter Ingatkan Bahaya Jamu Penggemuk Badan yang Mengandung Kortikosteroid
"Saya benar-benar sibuk memastikan tim saya tetap bisa bekerja. Saya tidak punya insentif untuk berpartisipasi," tulis seorang karyawan.
Karyawan lain merasa agenda tersebut tidak relevan dengan tekanan kerja saat ini. "Saya pernah berpartisipasi di hackathon sebelumnya, tapi ini tidak lagi terasa seperti pilihan," katanya.
Kebijakan Baru untuk Pemulihan
Untuk meredam ketidakpuasan, Zuckerberg menyodorkan kebijakan penyediaan akses meja kerja permanen bagi staf. Kebijakan ini muncul setelah sistem 'hot desks' menuai kontroversi.
Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, mendukung langkah pemulihan kenyamanan kerja. Meta berencana memulihkan fasilitas 'microkitchen' sebagai area rehat dengan makanan dan minuman ringan.
Perusahaan juga akan mengucurkan tambahan anggaran perjalanan dan dana untuk kegiatan sosial agar pegawai dapat berinteraksi tatap muka.
>>> Omoway Luncurkan Skuter Listrik Omo X dengan Teknologi Self-Balancing
Bosworth berjanji membenahi birokrasi dengan batas maksimal 20 bawahan per manajer dan membatasi frekuensi pergantian atasan.