Otoritas kesehatan meningkatkan pengawasan terhadap potensi penyebaran penyakit menular selama Piala Dunia 2026.
Turnamen ini berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
>>> Saddil Ramdani Antusias Sambut Persib Bandung di ASEAN Club Championship
Perhelatan akbar ini diperkirakan mendatangkan lebih dari enam juta penonton ke berbagai kota tuan rumah. Mobilitas tinggi dan kerumunan besar dinilai memicu potensi penularan penyakit.
Pakar kesehatan dari Health Security Operations Center di Georgetown University, Rebecca Katz, menjelaskan bahwa setiap acara dengan massa besar selalu memiliki tantangan kesehatan.
"Acara dengan jumlah massa besar selalu rumit. Selalu ada ancaman penyakit menular yang menyertainya," ungkap Katz.
Tim ahli saat ini memantau perkembangan berbagai penyakit di kota-kota tuan rumah, lokasi pemusatan latihan tim, hingga daerah asal para pelancong.
Tingkat kompleksitas lebih tinggi karena turnamen berlangsung di tiga negara sekaligus.
"Ajang ini sangat rumit karena melibatkan tiga negara dan lebih dari 48 yurisdiksi berbeda, termasuk lokasi pemusatan latihan tim serta pergerakan orang di antaranya," ujar Katz.
Sejumlah penyakit yang dipantau meliputi infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, infeksi menular seksual, hingga penyakit yang menjadi perhatian di kawasan Amerika Utara seperti campak, demam berdarah dengue, hepatitis A, dan mpox.
>>> DPR dan KADIN Bahas Urgensi Revisi UU Nomor 1 Tahun 1987
Campak Jadi Fokus Utama
Penyakit campak menjadi salah satu fokus utama karena kasusnya telah ditemukan di ketiga negara tuan rumah. "Yang paling menjadi perhatian saat ini adalah campak.
Kami telah melihat kasusnya di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko," jelas Katz.
Situasi tersebut terus dipantau, terutama di wilayah yang akan menjadi lokasi pertandingan maupun tempat tim nasional bermarkas.
Wabah Ebola yang masih terjadi di Republik Demokratik Kongo dan Uganda juga masuk dalam pemantauan.
Kendati demikian, risiko penyebaran virus Ebola saat Piala Dunia 2026 dinilai masih rendah.
"Melihat cara penularan Ebola dan langkah-langkah pengendalian yang sudah diterapkan, kami tidak terlalu khawatir penyakit ini menjadi ancaman bagi masyarakat di sini," kata Katz.
Untuk mendeteksi potensi wabah lebih dini, tim kesehatan memanfaatkan teknologi pemantauan air limbah (wastewater monitoring). Metode ini memungkinkan petugas menemukan jejak patogen sebelum kasus meluas.
>>> PTPN IV Rugi Miliaran Akibat Penjarahan Sawit di Aceh Utara
"Ini merupakan sumber data pengawasan yang sangat kuat. Jika ada satu kasus Ebola sekalipun, kami bisa menemukannya," lengkap Katz.