Harga minyak dunia menguat hampir 1 persen pada akhir perdagangan Rabu (17/6/2026) waktu setempat.
Pergerakan ini dipicu oleh keraguan pasar terhadap hasil kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
>>> Dewan Ekonomi Nasional Targetkan Perlinsos AI Meluncur November 2026
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman dengan Iran belum bersifat final. Ia juga mengancam akan melanjutkan perang jika hasil kesepakatan tidak memuaskan.
Harga minyak mentah Brent naik 59 sen atau 0,75 persen menjadi 79,55 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 74 sen atau 0,97 persen ke 76,79 dolar AS per barel.
Ketidakpastian ini muncul hanya beberapa hari setelah kedua negara mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz pada Minggu lalu.
"Masih ada sedikit ketidakpastian terkait situasi AS.
Wajar jika harga minyak kembali naik dari level saat ini," ujar Fawad Razaqzada, analis pasar City Index dan FOREX.
com.
>>> KPAI Minta Polisi Usut Dugaan Kekerasan terhadap Betrand Peto
Selain ketegangan AS-Iran, eskalasi konflik di Timur Tengah meluas setelah Israel meluncurkan serangan udara dan artileri ke Lebanon selatan pada Rabu.
Serangan itu dibalas dengan dua serangan drone oleh kelompok Hizbullah.
Di sisi lain, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan penurunan persediaan minyak mentah domestik selama sepuluh minggu berturut-turut akibat lonjakan permintaan.
"AS dan negara-negara lain terus menggunakan cadangan strategis serta stok komersial mereka untuk membantu mengurangi gangguan pasokan di Timur Tengah," kata Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.
Meskipun terjadi gangguan pasokan jangka pendek, International Energy Agency (IEA) memproyeksikan surplus pasokan global signifikan hingga 8 juta barel per hari pada 2027.
"Pasar mungkin masih meremehkan besarnya kelebihan pasokan yang akan masuk ke pasar," ujar Crispus Nyaga, analis riset Empire FX.
>>> Portugal Imbang 1-1 Lawan RD Kongo di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Para pelaku industri memperkirakan pemulihan kapasitas produksi dan pengolahan minyak ke tingkat sebelum perang masih memakan waktu beberapa tahun ke depan.