Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuannya dalam rapat terbaru.
Keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) tersebut menetapkan Federal Funds Rate tetap pada kisaran 3,5-3,75 persen.
>>> Suzuki Indonesia Konfirmasi SUV Baru, Diduga XL7 Facelift
Nilai ini tidak berubah sejak pemotongan sebesar 75 basis poin pada paruh kedua tahun lalu.
Meskipun kebijakan ini sudah diantisipasi pasar, bank sentral tetap memberikan indikasi bahwa opsi menaikkan suku bunga masih terbuka untuk masa mendatang.
Dampak terhadap Rupiah
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpendapat bahwa bertahannya suku bunga AS berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
Menurutnya, pergerakan mata uang domestik saat ini turut dipengaruhi oleh ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
"Pada saat Bank Sentral Amerika mempertahankan suku bunga, kemungkinan besar rupiah akan melemah," ujar Ibrahim.
>>> Hasil SPMB SD dan SMP Palembang 2026 Diumumkan, Ini Cara Ceknya
Kondisi pelemahan sudah terlihat pada penutupan perdagangan spot, di mana rupiah terdepresiasi sebesar 37 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp 17.762 per dollar AS.
Ibrahim memproyeksikan koreksi rupiah bisa menyentuh angka Rp 18.500 per dollar AS sebagai level terendahnya.
Apabila The Fed tiba-tiba mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga, efek negatif diperkirakan akan langsung memukul nilai tukar rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Namun, peluang terjadinya kenaikan bunga dalam waktu dekat dinilai cukup kecil.
>>> Harga Minyak Dunia Menguat Dipicu Keraguan Kesepakatan Damai AS-Iran
Situasi geopolitik global yang mulai mereda di Timur Tengah turut menjadi faktor pelunak, terutama dengan kembali dibukanya Selat Hormuz yang membantu meredam tekanan inflasi dunia.