Tekanan pasca-pengumuman diprediksi sensitif terhadap saham perbankan sebagai tujuan utama modal asing.
Namun, Azharys Hardian menegaskan efeknya tidak bisa disamaratakan ke semua saham berkapitalisasi besar karena bobot tiap emiten berbeda.
"Dampak negatif dari hasil review ini tidak bisa kita generalisir begitu saja ke semua saham big caps.
Efeknya akan sangat bervariasi karena kasus dan bobot masing-masing saham di dalam indeks berbeda-beda.
Jadi, kita harus melihat hasil detailnya per emiten besok, apakah murni karena faktor perpanjangan freeze atau ada penyesuaian bobot spesifik," kata Azharys Hardian.
Pencermatan terhadap rincian hasil review disarankan kepada investor. Sementara saham-saham yang sudah keluar dari indeks akibat tingginya konsentrasi kepemilikan diperkirakan tidak akan terdampak sentimen rebalancing.
"Karena posisi mereka sudah berada di luar indeks, mereka tidak akan lagi terpengaruh oleh aksi jual otomatis (rebalancing) dari fund manager global yang mereplikasi indeks MSCI," ujar Azharys Hardian.
Pasar kini menghadapi tiga agenda beruntun, yaitu MSCI Market Accessibility Review pada 18 Juni 2026, FTSE Rebalancing pada 19 Juni 2026, serta MSCI Market Classification Review pada 23 Juni 2026.
>>> Artotel Group dan Perisai Psikologi Indonesia Luncurkan Wisata Psikologi untuk Lansia
Sebelumnya, MSCI telah mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes pada Mei 2026, termasuk AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT yang dipindahkan ke kelompok Small Cap.