⌂ Beranda News Bawang Putih Masuk Agenda Swasembada Pangan Nasional, Target 3-4 Tahun

Bawang Putih Masuk Agenda Swasembada Pangan Nasional, Target 3-4 Tahun

Bawang Putih Masuk Agenda Swasembada Pangan Nasional, Target 3-4 Tahun
Petani memanen bawang putih di ladang
A A Ukuran Teks16px

Kementerian Pertanian (Kementan) resmi memasukkan bawang putih ke dalam agenda swasembada pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Langkah ini diambil untuk memangkas angka impor komoditas tersebut.

>>> Xpeng G6 Ramaikan Pasar SUV Listrik Indonesia dengan Desain Futuristik

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan bahwa saat ini pasokan bawang putih dalam negeri masih didominasi produk impor.

Pasokan impor bahkan telah menguasai hingga 90 persen dari total kebutuhan nasional.

Pemerintah menargetkan swasembada bawang putih dapat tercapai dalam kurun waktu 3-4 tahun ke depan. Namun, ada sejumlah kendala utama yang harus dihadapi, terutama ketersediaan lahan dan bibit.

"Kita butuh at least 3-4 tahun untuk bisa mencapai swasembada ini.

Tantangan paling utamanya adalah ketersediaan lahan, dan juga khususnya lagi adalah ketersediaan bibit," kata Sudaryono dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu kemarin.

Menurut Sudaryono, kendala lahan untuk bawang putih tidak seberat saat mengupayakan kemandirian beras.

Total kebutuhan area tanam hanya sekitar 100.000 hektare, namun tanaman ini memerlukan karakteristik lingkungan yang spesifik.

Pemerintah telah mengidentifikasi tiga lokasi potensial, yaitu Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Temanggung, dan Humbang Hasundutan.

"Nah itu tantangannya, jadi nyari tempatnya yang kurang lebih mirip-mirip seperti itu, tempatnya yang tinggi," jelas Sudaryono.

Tantangan lain adalah ketersediaan bibit. Indonesia tidak memiliki stok bibit lokal yang memadai akibat ketergantungan impor yang sudah berlangsung lama.

Tidak ada negara produsen yang mampu memasok bibit dalam volume masif secara instan.

Sudaryono menjelaskan bahwa bibit yang didatangkan dari luar negeri harus melalui proses penangkaran terlebih dahulu agar bisa beradaptasi dengan iklim Indonesia.

>>> Dinas Pertamanan DKI Ungkap Modus Pungli Makam Libatkan Oknum RT RW

"Kan selama ini negara kita ini impor, yang kita makan itu impor. Maka untuk bisa tanam butuh bibit," ujarnya.

Ia mencontohkan, jika mengimpor bibit dari China, tidak mungkin mendapatkan bibit untuk 100 ribu hektare sekaligus.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru