Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunga acuan Amerika Serikat pada kisaran 3,5 hingga 3,75 persen.
Keputusan ini diambil dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh.
>>> Prodia Diagnostic Line IPO dengan Harga Rp100-Rp120 per Saham, Lock-up 8 Bulan
Langkah tersebut bertujuan mengendalikan inflasi di tengah kekhawatiran dampak Perang Iran. Bank sentral AS menilai kebijakan ini diperlukan agar perekonomian domestik tidak merosot.
Keputusan penahanan suku bunga memicu perdebatan panjang di internal komite. Namun, seluruh anggota akhirnya mencapai kesepakatan bulat.
"Saya sudah mengatakan selama bertahun-tahun bahwa inflasi adalah sebuah pilihan," kata Warsh dikutip dari CNBC, Rabu (17/6/2026).
Warsh menegaskan bahwa hanya ada satu usulan yang diajukan dan FOMC sepakat tanpa keraguan. "Hanya ada satu usulan yang diajukan.
FOMC sepakat dan tidak ragu-ragu mengenai hal itu," katanya.
Kebijakan ini berdampak pada kenaikan imbal hasil obligasi Treasury jangka waktu dua tahun sebesar 16 basis poin.
Namun, situasi ini membatasi ruang gerak ketua bank sentral dalam memberikan pernyataan publik terkait penurunan performa pasar modal.
>>> PN Jakpus Mulai Eksekusi Lahan Eks Hotel Sultan di GBK
"Apa yang telah kami berikan kepada pasar adalah babak baru bagi bank sentral," jelas Warsh.
Sektor pembiayaan kini menghadapi tantangan baru setelah komite memperingatkan potensi lonjakan harga energi yang meluas. Meski kinerja obligasi negara mencatat pertumbuhan signifikan, risiko gejolak harga komoditas tetap membayangi.
"Komite ini akan mewujudkan stabilitas harga," jawab Warsh saat ditanya ancaman kenaikan harga energi.
Tekanan ekonomi diperparah oleh kondisi sektor energi domestik. Cadangan minyak mentah nasional per Juni 2026 dilaporkan merosot ke level terendah sejak 1983.
Konflik geopolitik di Timur Tengah dituding sebagai penyebab utama terkurasnya pasokan global, meski situasi mulai mengarah pada kesepakatan damai.
"Dunia menggunakan sekitar 100 juta barel minyak setiap hari. Cadangan minyak telah menyusut dengan sangat cepat.
Amerika Serikat, produsen minyak terbesar di dunia, juga menguras cadangannya karena perusahaan-perusahaan meningkatkan ekspor untuk memasok kebutuhan dunia lainnya," lapor The New York Times, Jumat (12/6/2026).
>>> Pertamina Patra Niaga Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp 16.250 per Liter
Penipisan cadangan energi dan tingginya laju ekspor oleh korporasi minyak diprediksi berdampak langsung pada konsumen lokal. Harga bahan bakar minyak di SPBU diproyeksikan melonjak sebelum pasokan bensin habis.