⌂ Beranda News Mengapa Kebiasaan Scroll Media Sosial Sulit Dihentikan? Ini Penjelasan Psikologisnya

Mengapa Kebiasaan Scroll Media Sosial Sulit Dihentikan? Ini Penjelasan Psikologisnya

Mengapa Kebiasaan Scroll Media Sosial Sulit Dihentikan? Ini Penjelasan Psikologisnya
Ilustrasi scroll media sosial
A A Ukuran Teks16px

Menggulirkan layar media sosial sering kali menyita waktu lebih lama dari yang direncanakan.

Jari yang terus menggeser layar dan mata yang tertuju pada konten tanpa putus menjadi fenomena yang kian lumrah.

>>> Amallia/Siti Fadia Melaju ke Perempat Final Macau Open 2026

Ditinjau dari sisi psikologis, aktivitas tersebut tidak melulu berkaitan dengan lemahnya kontrol diri. Terdapat proses kerja otak yang bereaksi terhadap rasa penasaran, kejutan, hingga kepuasan instan.

Kondisi ini menjadikan platform digital terasa interaktif, meskipun tidak selalu menghadirkan kegunaan psikologis yang sepadan. Fenomena ini juga berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan sosial yang semu.

Social Snacking dan Hubungan Parasosial

Salah satu teori yang memaparkan perilaku ini dikenal dengan istilah social snacking.

Konsep ini merujuk pada aktivitas memantau foto, pembaruan status, atau cerita orang lain secara pasif tanpa keterlibatan komunikasi yang riil.

Aktivitas tersebut memberikan kesan keliru bahwa pengguna sedang menjalin komunikasi. Padahal, yang dirasakan hanyalah permukaan dari interaksi sosial tanpa adanya komunikasi timbal balik yang nyata.

Otak manusia tetap memproses stimuli visual dan emosi dari platform tersebut layaknya sebuah interaksi sosial yang nyata. Namun, elemen utama berupa respons dua arah tidak terjadi.

>>> Sistem Kamera Tesla Terkecoh Boneka Cristiano Ronaldo dan Layar Mini

Akibatnya, perasaan terhubung yang didapatkan hanya bertahan dalam waktu singkat. Setelah aktivitas menggulirkan layar dihentikan, pengguna justru rentan merasakan kesepian yang lebih mendalam.

Faktor lain yang mendorong perilaku ini adalah parasocial relationship, yaitu kedekatan satu arah antara pengguna dengan figur publik atau pembuat konten yang mereka ikuti di dunia maya.

Hubungan satu arah ini mampu memberikan rasa dekat dan meningkatkan rasa percaya diri untuk sementara waktu.

Namun, efek positif tersebut akan memudar dengan cepat karena sifatnya yang tidak berbalas.

Pembuat konten tidak mengenal audiensnya secara personal, sehingga perasaan terkoneksi harus terus diperbarui dengan melihat unggahan berikutnya. Dorongan ini yang memicu pengguna terus membuka aplikasi tanpa henti.

Analisis European Commission’s Joint Research Centre pada 2024 menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi konten secara pasif dengan peningkatan rasa sepi pada kalangan muda di Eropa.

>>> PT Paperocks Indonesia Tbk Targetkan Penjualan Rp 80,53 Miliar pada Kuartal II-2026

Sebaliknya, pemanfaatan platform secara aktif untuk bertukar pesan tidak memperlihatkan kaitan yang berarti dengan rasa kesepian.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru