Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Iran pada Rabu (17/6) untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Langkah diplomatik ini bertujuan menghentikan konflik yang telah mengguncang perekonomian global.
>>> Roberto Martinez Dikritik Usai Portugal Ditahan Imbang RD Kongo
Kesepakatan tersebut langsung memicu kritik tajam dari berbagai media di Amerika Serikat.
Sejumlah media menilai bahwa keputusan itu mengabaikan tujuan awal pra-perang, memperkuat posisi Iran, serta menyia-nyiakan anggaran ratusan miliar dolar.
Sebelum penandatanganan, tensi sempat memanas akibat pernyataan dari pemimpin AS.
Beberapa jam sebelum acara, penegasan mengenai kesiapan militer dilontarkan sebagai peringatan kepada Teheran agar mematuhi kewajibannya.
>>> Tim Ekspedisi Temukan Bangkai Kapal Penjara Jepang Hofuku Maru di Filipina
"No, this is not final. This is a memorandum of understanding," kata Trump di KTT G7 di Prancis.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa kesepakatan yang tercapai masih bersifat sementara.
Pihak AS menegaskan posisi tawar mereka dapat berubah tergantung kepatuhan Iran. "If I don't like it, we're going to go back in," tambahnya.
Dampak penandatanganan langsung terasa di sektor energi internasional.
>>> Whoosh Gelar Promo Diskon Tiket Rombongan hingga 20 Persen
Sentimen positif dari dibukanya kembali Selat Hormuz memicu penurunan harga minyak mentah dunia setelah sempat melonjak akibat perang selama tiga bulan.