Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Hidayat Nur Wahid menyatakan dukungan penuh terhadap kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani pada Jumat (19/6/2026).
Kesepakatan tersebut diprakarsai oleh Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani naskah perdamaian secara terbuka.
>>> Kemnaker Mediasi PHK 133 Buruh PT Amos Indah Indonesia
Hidayat memberikan apresiasi tinggi terhadap peran aktif ketiga negara perantara yang berhasil menyatukan naskah perdamaian.
Namun, ia mengingatkan bahwa situasi di Timur Tengah masih menghadapi tantangan besar akibat tindakan militer yang terus berlangsung di kawasan lain.
"Kita tentu berterima kasih dan mengapresiasi tinggi prakarsa Pakistan, Qatar dan Arab Saudi yang efektif bergerak sehingga naskah perdamaian bisa disetujui dan ditandatangani, walau terus berusaha 'dirusak' oleh Israel dengan manuvernya yang masih tak henti menyerang Lebanon," kata Hidayat dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).
Ia menekankan bahwa sikap Amerika Serikat sangat baik jika tidak hanya mengkritisi tindakan Israel, tetapi benar-benar menghentikannya demi tercapainya perdamaian dan terhindarnya dunia dari krisis politik dan ekonomi.
Kewaspadaan terhadap pergerakan militer Israel di Lebanon perlu ditingkatkan agar tidak menggagalkan kesepakatan yang sudah dicapai.
Langkah ini krusial untuk mencegah eskalasi konflik menjadi perang dunia ketiga dan memulihkan ekonomi global yang terdampak oleh penutupan Selat Hormuz.
"Jangan malah seperti Israel yang masih terus melanggar gencatan senjata dengan terus melakukan tindakan militer dan melarang masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, padahal mereka sudah menyetujui perdamaian, agar perdamaian dan stabilitas kawasan yang diinginkan oleh AS dan masyarakat dunia bisa benar-benar terwujud," lanjutnya.
Hidayat berharap implementasi perjanjian ini dapat segera menurunkan ketegangan dan membuka kembali jalur perdagangan internasional.
Pemulihan jalur maritim tersebut diharapkan membawa dampak positif langsung bagi stabilitas harga komoditas global.
"Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, penting juga bisa segera menurunkan harga minyak dunia yang sangat membebani banyak negara, termasuk Indonesia," katanya.