Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana mengalihkan fokus politik luar negerinya ke Korea Utara setelah merampungkan kesepakatan dengan Iran.
Hal itu disampaikan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Jumat (19/6/2026) di Seoul, berdasarkan pernyataan yang dikutip dari AFP.
>>> Swiss Hadapi Bosnia demi Amankan Tiket Babak Gugur Piala Dunia 2026
Pernyataan tersebut muncul setelah Lee melakukan pertemuan dengan Trump dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis beberapa hari sebelumnya.
"Presiden Trump mengatakan bahwa sudah saatnya untuk menaruh perhatian ke masalah Korea Utara," kata Lee kepada wartawan di Seoul.
Pandangan Korsel soal Sanksi
Menanggapi niat tersebut, Lee menyampaikan pandangannya mengenai situasi geopolitik di Semenanjung Korea saat makan malam bersama Trump.
"Saya mengatakan kepadanya bahwa sanksi dan tekanan (terhadap Korea Utara) tidak efektif," ujar Lee.
Menurut Lee, efektivitas tekanan internasional terhadap Pyongyang mengalami penurunan signifikan akibat dinamika global, terutama kerja sama militer antara Korea Utara dan Rusia yang dipicu perang di Ukraina.
>>> Harry Kane Samai Rekor Gol Piala Dunia Gary Lineker
"Efektivitas sanksi telah berkurang karena kerja sama militer antara Korea Utara dan Rusia yang berasal dari perang di Ukraina," tambahnya.
Hubungan bilateral yang semakin erat antara Pyongyang dan Moskow dinilai memberikan ruang napas baru bagi perekonomian dan program militer Korea Utara.
"Bahkan sedikit bantuan dari Rusia sangat membantu Korea Utara," kata Lee.
Langkah diplomasi Trump pasca-kesepakatan Iran diperkuat dengan unggahan foto lamanya bersama Kim Jong Un di Singapura pada 2018 melalui media sosial, memicu spekulasi pengalihan fokus ke negara bersenjata nuklir tersebut.
>>> Cristiano Ronaldo Catat Rekor Buruk 10 Laga Tanpa Gol di Turnamen Besar
Kedua Korea secara teknis masih dalam status perang sejak konflik 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata.