Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan Jumat (19/6/2026) setelah perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss dibatalkan secara sepihak.
Pembatalan ini dipicu oleh eskalasi serangan Israel ke Lebanon yang meningkatkan ketidakpastian pasar global.
>>> Dua Tornado EF-1 Landa Vermont, 20.000 Pelanggan Padam
Data Refinitiv menunjukkan minyak mentah Brent ditutup menguat 0,90 persen ke posisi US$ 80,57 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,27 persen menjadi US$ 77,54 per barel.
Sebelumnya, kedua kontrak sempat anjlok sekitar 8 persen sepanjang pekan ini akibat sentimen gencatan senjata sementara.
Ketidakpastian geopolitik membuat pelaku pasar bersikap waspada, meskipun lalu lintas komersial di Selat Hormuz dilaporkan mulai menunjukkan aktivitas pemulihan pasca pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh AS.
Analis: Pasar Masih Menunggu Bukti Normalisasi
Analis pasar KCM memantau pergerakan pasar yang masih responsif terhadap situasi riil di lapangan pelayaran minyak Timur Tengah.
"Para pedagang masih menunggu bukti konkret bahwa lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz benar-benar kembali normal sebelum berkomitmen pada penurunan harga selanjutnya," kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM.
Kekhawatiran pasar juga dipicu oleh potensi keretakan nota kesepahaman awal yang telah disepakati kedua belah pihak sebelum pembatalan pertemuan di Swiss.
"Harga mungkin telah mencapai titik terendah dan kita mungkin akan melihat kenaikan kembali yang disertai dengan banyak volatilitas karena keretakan telah muncul dalam nota kesepahaman," kata Vandana Hari, pendiri Vanda Insights.
Meskipun terjadi gejolak harga jangka pendek, organisasi pemantau lalu lintas maritim internasional mencatat bahwa pasokan fisik minyak mentah dari kilang-kilang di kawasan Teluk tetap bergerak aktif menuju pasar Asia.
>>> Real Madrid Buka Peluang Jual Gelandang, Manchester United Siap Incar Tchouameni
"Polemik terkait sanksi sepihak Amerika Serikat tampaknya tidak lagi menjadi persoalan utama," kata Charlie Brown, penasihat senior United Against Nuclear Iran (UANI).
Di sisi lain, penurunan harga tajam yang terjadi sebelumnya dinilai telah memberikan keyakinan mendasar bagi para investor mengenai keberlanjutan pasokan jangka panjang.