Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, komando militer tertinggi Iran, mengancam akan menutup akses pelayaran di Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026).
Ancaman ini dipicu oleh dugaan pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
>>> Megawati Tertawa Lihat Peserta Lomba Impersonate Dirinya di Festival Bung Karno
Kantor berita negara Iran, Mehr, pertama kali mempublikasikan ancaman pemblokiran jalur laut krusial tersebut.
Pihak militer Teheran menegaskan bahwa langkah ini merupakan respons awal terhadap ketidakpatuhan atas kesepakatan damai yang telah disepakati sebelumnya.
Komando militer Iran menyebutnya sebagai "langkah pertama" dan mengingatkan adanya potensi tindakan susulan yang lebih tegas.
>>> Disdik Kalteng Selidiki Video Tidak Pantas Pelajar di Kotawaringin Timur
Hal ini akan dilakukan jika tindakan provokasi dari pihak lawan masih terus berlanjut di wilayah tersebut.
Diplomasi di Tengah Ketegangan
Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance tetap melakukan perjalanan ke Swiss untuk mengadakan pembicaraan diplomatik dengan pihak Iran.
Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Vance menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan 14 poin antara Washington dan Teheran akan tetap bertahan.
>>> Disdik Kalteng Evaluasi Video Asusila Pelajar di Sampit
Ia juga menegaskan belum melihat bukti nyata terkait rencana penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
